Jakarta (ANTARA News) - Produsen mobil listrik Nio Inc, salah satu kompetitor utama Tesla di China, mengumpulkan dana 650 juta dolar (Rp9,06 triliun) melalui obligasi terkonversi lima tahun, guna mendanai program ekspansi perusahaan.

Langkah produsen mobil yang berbasis di Shanghai itu dalam meningkatkan modal melalui obligasi -- setelah empat bulan terdaftar di New York -- mencerminkan bahwa perusahaan yang memiliki pertumbuhan tinggi punya daya tarik obligasi untuk mencari modal baru.

Obligasi konversi atau convertible bond adalah salah satu jenis obligasi yang bisa dikonversikan menjadi saham. Cara ini dinilai sebagai jalan untuk mendapatkan dana lebih mudah dan investor berpotensi mendapatkan laba dari kenaikan harga saham emiten di masa berikutnya.

Nio pun menjual obligasi konversi lima tahun dengan premi konversi 27,5 persen, menurut keterangan perusahaan dilansir Reuters, Sabtu.

Baca juga: Kenapa mobil listrik mudah dijumpai di Hong Kong?

Saham perusahaan itu ditutup pada 7,46 dolar AS pada Rabu (30/1) dan naik sekitar 24 persen setelah mereka diperdagangkan pada bulan September.

Kepala keuangan Nio, Louis Hsieh, mengatakan kepada investor bahwa salah satu alasan menjual obligasi konversi adalah untuk menciptakan perbedaan. Perusahaan itu awalnya ingin menggenjot pendapatan melalui initial public offering (IPO).

Ia juga mengatakan bahwa upaya ini dilakukan secara cepat agar tidak terkena dampak buruk perang dagang antara AS dan China yang berpotensi memperlambat upaya mereka dalam mendapatkan dana, demikian Reuters.

Baca juga: Nio disebut lebih murah dan cepat dibanding Tesla

Penerjemah: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019