Jakarta (ANTARA) - Kementerian Ekonomi Jerman menyebutkan pihaknya tengah melakukan penyelidikan terhadap kelompok teknik Bosch karena diduga telah menyuplai dan melanggar larangan ekspor barang ke Rusia.

Sejak invasi Rusia ke Ukraina, Uni Eropa mengeluarkan sanksi pembatasan ekspor yang lebih ketat.

Dikutip dari Reuters, Sabtu, sebenarnya Bosch telah mengeluarkan pernyataan sikap menangguhkan pengiriman komponen truk di dalam Rusia dan ke pelanggan Rusia sebagian karena indikasi produknya digunakan untuk tujuan non-sipil yang melanggar kontrak lokal.

Perusahaan yang memiliki pabrik produksi suku cadang kendaraan dan barang-barang lainnya di Rusia itu mengatakan sebagian besar bisnisnya di Rusia telah dibatasi karena perang Ukraina.

Penyelidikan terkait pelanggaran ekspor tersebut berlangsung setelah keluarnya pernyataan dari Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba menyebutkan ditemukan suku cadang milik Bosch di kendaraan militer Rusia.

Pihak Bosch dan Pemerintah Jerman pun langsung menanggapi pernyataan tersebut dan memastikan penyelidikan langsung berjalan.

“Kami menanggapi pernyataan menteri luar negeri Ukraina dengan sangat serius dan segera memulai penyelidikan intensif," kata juru bicara Bosch.

Perusahaan itu pun memastikan bahwa setiap suku cadang tidak dipasok langsung ke pabrikan kendaraan militer tersebut.

Terkait dengan penyelidikan yang dilakukan Pemerintah Jerman, justru pihak Bosch tidak mengetahui hal tersebut.

Adapun Bosch mempekerjakan sekitar 3.500 orang di Rusia, dengan produksi utama barang-barang konsumsi, suku cadang kendaraan, dan barang-barang lainnya untuk pasar lokal di tiga lokasi.

Tercatat pada 2021, Bosch berhasil mengantongi penjualan hingga 1,2 miliar euro di Rusia.



Baca juga: Bosch akan tambah investasi Rp4 triliun untuk kapasitas produksi chip

Baca juga: Volkswagen dan Bosch kerja sama dorong produksi baterai di Eropa

Baca juga: Bosch investasi Rp6,5 triliun untuk produksi semikonduktor

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2022