Karawang, Jawa Barat (ANTARA News) - Keselamatan merupakan salah satu tantangan yang paling mendesak dalam industri otomotif karena berkaitan dengan nyawa pengemudi, penumpang maupun pengguna jalan lainnya.

Berbagai teknologi keselamatan pun diciptakan, mulai dari antilock braking system (ABS) untuk pengereman aman tanpa roda yang terkunci, sistem kontrol traksi, hingga electronic stability program (ESP).

Antara bersama sejumlah pewarta otomotif menjajal keunggulan fitur electronic stability program dari Bosch yang dipasangkan pada kendaraan penumpang di Proving Ground Bridgestone, Karawang, Jawa Barat, Selasa.

Pewarta duduk di bangku penumpang sambil mendengarkan penjelasan dari technical specialist dari Chassis Systems Control Bosch Australia, Ken Humphreys, yang mengemudikan Honda Mobilio terbaru dan Honda BR-V.

Awalnya, mobil itu dipacu di lintasan kemudian Ken Humphreys mengerem mendadak mobil itu. Sebelum berhenti, mobil berbelok ke kanan kemudian kiri secara tidak stabil.

Namun hal berbeda terjadi pada percobaan kedua saat fitur electronic stability program (ESP) diaktifkan. Mobil yang direm mendadak dapat dikontrol jauh lebih stabil, tidak membelok secara ekstrem sebelum berhenti.

"Dengan ESP akan jauh lebih stabil karena ada sensor yang membaca gerakan setir apabila roda membelok tidak sesuai dengan arah pengemudi," kata Ken Humphreys saat mengenalkan fitur itu di Proving ground Bridgestone, Karawang, Selasa petang.

ABS menjadi dasar dalam pengembangan sistem keselamatan kendaraan modern, misalnya sistem kontrol traksi dan ESP.

Baca juga: Tekan angka kecelakan, Bosch lahirkan sistem baru pendeteksi pesepeda

Dalam keterangan tertulisnya, Bosch menyebutkan sekitar 457 juta sistem pengereman ABS dan ESP dari Bosch telah diterapkan di berbagai belahan dunia.

Menggunakan sensor pintar, ESP mengecek hingga 25 kali per detik apakah mobil sudah benar-benar melaju sesuai dengan arah kemudi pengendara.

Jika pengukurannya tidak selaras, sistem anti-gelincir akan mengintervensi, dengan mulai mengurangi torsi mesin. Apabila belum cukup, sistem akan melakukan pengereman pada masing-masing roda, menghasilkan daya lawan yang dibutuhkan agar kendaraan tetap dapat melaju dengan aman.

Jika semua kendaraan dilengkapi dengan ESP, sekitar 80 persen kecelakaan akibat tergelincir dapat dihindari.

Managing Director Bosch Indonesia, Andrew Powell, menjelaskan mulai 1 November 2014, ESP menjadi fitur wajib di wilayah Uni Eropa (EU) untuk semua kendaraan roda empat terbaru yang telah terdaftar, serta kendaraan komersial ringan dengan berat hingga 3,5 metrik ton.

Dalam lima tahun terakhir, Bosch bekerja sama dengan ASEAN NCAP (New Car Assessment Program), dengan visi mengurangi fatalitas dan cedera akibat kecelakaan di jalan raya melalui pengenalan ABS dan ESP di wilayah Asia Tenggara.

Baca juga: Daimler-Bosch segera ujicoba armada swakemudi Robo-taxis
 

Pewarta:
Editor: Monalisa
Copyright © ANTARA 2018