Paris (ANTARA News) - Produsen mobil Prancis PSA Peugeot berjanji kepada Perdana Menteri Inggris, Theresa May, akan mengembangkan merek Vauxhall jika rencana pengambilalihan perusahaan itu berlangsung mulus.

Dalam percakapan telepon dengan May, pimpinan PSA Carlos Tavares "menyatakan kesediaannya untuk mengembangkan lebih lanjut merek ikonik Vauxhall guna kepentingan pelanggan setianya", kata PSA dalam sebuah pernyataan seperti dilansir AFP, Rabu (22/2) waktu setempat.

Pada pekan lalu, PSA menyatakan tengah mengincar dua merek General Motors (GM) di Eropa yaitu Opel dan Vauxhall yang memicu kekhawatiran di Jerman dan Inggris bahwa calon pemilik baru akan mengurangi tenaga kerja jika pengambilalihan berhasil.

"Carlos Tavares menyampaikan alasannya menciptakan langkah menarik dalam skenario baru Opel, memanfaatkan identitas yang kuat dari lima merek yang saling melengkapi, termasuk Vauxhall, yang berakar di pasar domestik masing-masing," kata PSA.

"Tavares menegaskan kembali komitmennya untuk melakukan dialog ini sesuai dengan perjanjian yang ada," katanya.

Sementara itu, PM Inggris "menggarisbawahi pentingnya sejarah industri otomotif di UK," katanya.

PSA berusaha memenangi akuisisi Opel di Jerman dan Vauxhall di Inggris. Sebelumnya, juru bicara Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan ia mendukung pengambilalihan setelah berbicara dengan Tavares.

Opel mengoperasikan 10 pabrik di Eropa yang tersebar di enam negara dengan 35.600 karyawan pada akhir 2015, 18.250 dari jumlah itu berada di Jerman.

Opel yang didirikan pada 1862 dengan emblem petir, sudah lama menjadi pemandangan umum di jalan-jalan Jerman dan Eropa. Namun dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan itu mengalami kerugian berulang, sebesar 15 miliar dolar AS sejak 2000.

Selain itu, keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada Juni tahun lalu juga turut menenggelamkan harapan Opel karena merugi 257juta dolar AS. Inggris adalah pasar terbesar Opel di Eropa di mana mereka menjual kendaraan dengan merek Vauxhall.

Penerjemah:
Copyright © ANTARA 2017