Tokyo (ANTARA) - Distributor utama PT Toyota Astra Motor (TAM) memilih memopulerkan kendaraan hibrid terlebih dahulu dibandingkan dengan membawa mobil "full" listrik (Battery Electric Vehicle/BEV) ke Indonesia, agar konsumen lebih kenal dan memahami kendaraan terelektrifikasi.

"Masih ada satu tahun untuk menentukan apa yang akan dilakukan Toyota terkait tahun 2025. Selama waktu itu akan kami pakai untuk terus memasyarakatkan EV (Electrified Vehicle), terutama mobil hibrid di Indonesia," kata Eksekutif GM PT Toyota Astra Motor (TAM) Fransciscus Suryopranoto di sela-sela mendamping jurnalis Indonesia di ajang Tokyo Motor Show, Jepang, Sabtu.

Pada 15 Oktober 2019, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 2019 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai PPnBM. Berdasarkan peraturan tersebut, kendaraan ramah lingkungan dengan emisi gas buang CO2 yang rendah akan kena PPnBM (Pajak Barang Mewah) lebih rendah. Peraturan itu berlaku dua tahun sejak diundangkan.

Selain itu, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai
(BEV) untuk Transportasi Jalan. Kedua peraturan tersebut menjadi dasar bagi produsen mobil untuk masuk era mobil listrik.

Baca juga: Toyota Crown HV Hybrid, mobil dinas menteri kabinet baru Jokowi

Soerjo, sapaan Fransiscus Soerjopranoto, mengatakan Toyota terus mengembangkan teknologi kendaraan yang ramah lingkungan yang menjadi tren dunia, termasuk Indonesia, mulai dari hibrid, plug-in hybrid, BEV, hingga Fuell Cell Electric Vehicle (FCEV) berbasis hidrogen.

Dengan demikian, kata dia, Toyota siap masuk dalam bisnis kendaraan sesuai dengan peraturan pemerintah.

"Pilihan-pilihan ini akan disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, regulasi pemerintah, dan kondisi Indonesia. Kami akan terus berdiskusi dengan pemerintah mengenai hal ini," katanya.

Sejak 2009, Toyota melalui TAM telah memperkenalkan dan memasarkan kendaraan terelektrifikasi melalui sedan hibrid Toyota Prius, dan variannya terus berkembang hingga ke sedan Camry Hybrid, MPV mewah Alphard Hyrid, C-HR Hybrid, dan terakhir sedan Corolla Altis Hybrid. Hingga kini, TAM telah menjual lebih dari 2.000 kendaraan hibrid di Indonesia.

Baca juga: Kerennya mobil hidrogen Toyota Mirai baru di Tokyo Motor Show

Oleh karena itu, pihaknya lebih memilih memasyaratkan mobil hibrid terlebih dahulu, ketimbang masuk langsung ke mobil "full" listrik atau BEV, walaupun Toyota Motor Corp sudah memiliki dan bakal produksi BEV pada 2020.

Pada ajang Tokyo Motor Show yang berlangsung mulai 24 Oktober sampai 4 November 2019 Toyota Motor Corporation (TMC) ultra compact BEV Toyota LQ yang akan dipasarkan di Jepang tahun depan, maupun kendaraan berbahan bakar hidrogen FCEV Toyota Mirai generasi ke-2.

"Yang jelas kami akan bekerja sama memenuhi target pemerintah pada 2025, yaitu sebanyak 20 persen kendaraan di Indonesia adalah EV di Indonesia," kata Soerjo.

Direktur Pemasaran TAM Anton Jimmi Suwandy mengatakan insentif pajak, terutama penurunan PPnBM saja, tidak cukup membuat kendaraan EV di Indonesia berkembang pesat, baik permintaan maupun produksi.

"Pajak mobil di Indonesia tidak hanya PPnBM, banyak komponen pajak lainnya yang membuat mobil listrik menjadi mahal," kata dia.

Selain itu, kata dia, berdasarkan pengalaman beberapa negara yang permintaan pasar dan produksi mobil listriknya berkembang, selain insentif pajak juga ada fasilitas lain yang diberikan pemerintah agar konsumen tertarik membeli mobil ramah lingkungan tersebut dan produsen bergairah memproduksinya.

Baca juga: Toyota "unjuk gigi" soal mobilitas masa depan di Tokyo Motor Show
Baca juga: Toyota Ultra Compact, mobil mungil baterai yang siap diproduksi



Pewarta: R016
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2019