Jakarta (ANTARA News) - President Director PT Tata Motors Distribusi Indonesia Biswadev Sengupta mengatakan, prospek pasar otomotif di Indonesia cerah didukung kondisi ekonomi yang semakin membaik.

"Tata sebagai pemain baru melihat iklim ekonomi secara fundamental kuat sehingga kami percaya untuk menjalankan bisnis di Indonesia," kata Biswadev di Jakarta, Rabu.

Biswadev melihat ada peluang dalam memasarkan mobil di Indonesia dengan semakin membaiknya iklim ekonomi di Indonesia.

Dia juga melihat kebijakan pemerintah untuk memproduksi mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/ LCGC) sangat tepat di tengah-tengah ekonomi yang sedang "bullish" (berkembang pesat).

Kebijakan LCGC akan mendorong tumbuhnya industri hulu dan hilir sehingga pada akhirnya akan menciptakan banyak lapangan kerja, kata Biswadev

Terkait dengan kebijakan pemerintah kota berpenduduk padat seperti Jakarta dan Surabaya untuk membatasi penggunaan mobil pribadi, Biswadev mengatakan hal tersebut memang menjadi problem di sejumlah kota besar di dunia, tetapi kita tidak bisa menyuruh masyarakat untuk tidak membeli mobil.

Menurut dia, salah satu indikator membaiknya ekonomi suatu negara dapat dilihat dari daya beli masyarakatnya yang mengalami kenaikan.

"Kalau awalnya mereka mampu membeli kebutuhan dasar seperti rumah setelah itu tentunya mereka akan mencari kebutuhan lainnya seperti mobil," ujar Biswadev.

Biswadev mengatakan, untuk mengatasi kemacetan di kota besar maka pola pikirnya yang harus diubah untuk itu pemerintah kota harus menyediakan sarana transportasi masal yang memadai.

Harus dibiasakan untuk kegiatan sehari-hari seperti ke kantor, sekolah menggunakan transportasi umum, mobil hanya dipergunakan pada hari libur (Sabtu dan Minggu) misalnya berbelanja, wisata, undangan resepsi dan sebagainya.

Biswadev mengatakan, pemerintah tidak dapat membatasi seseorang memiliki kendaraan karena sering dikaitkan dengan naiknya status tetapi dapat mengajak mereka untuk kegiatan sehari-hari menggunakan transportasi umum massal.

Biswadev mengatakan, sebanyak 80 persen masyarakat di Jakarta melakukan perjalanan pulang pergi dari rumah ke kantor atau ke sekolah, sehingga tidak mungkin kalau menggunakan mobil semua.

Pemerintah harus menyediakan kendaraan transportasi masal yang nyaman tetapi dengan harga terjangkau untuk itu di sejumlah negara pemerintah tetap memberikan subsidi.

Terkait dengan kebutuhan transportasi massal yang memadai, Biswadev mengatakan, Tata Motors di dunia dikenal sebagai produsen bus ukuran besar maupun kecil nomor tiga dunia.

"Kita memiliki kendaraan yang cocok untuk dipergunakan sebagai angkutan perdesaan dan perkotaan yang biaya operasional terjangkau," kata Biswadev.

Mobil untuk di perdesaan harus dirancang kuat tetapi biaya yang terjangkau, Tata Motors memiliki mobil semacam ini menggunakan mesin diesel 600 cc satu silinder.

Biswadev mengatakan, seharusnya untuk kota padat penduduk seperti Jakarta maka kendaraan yang layak dibeli adalah model city car dan hatch back hemat BBM, kecuali kalau anggota keluarga besar dapat menggunakan MPV.

Biswadev mengatakan, di India masyarakat lebih suka menyimpan city car di garasinya, suatu saat ketika kedatangan anggota keluarga lebih banyak barulah menyewa MPV.

Terkait dengan sejumlah produsen mengembangkan mobil listrik, Biswadev mengatakan, teknologinya saat ini masih sangat mahal dan sulit diaplikasikan di negara berkembang.

Dia menyarankan untuk menggunakan kendaraan berbahan bakar gas (compressed natural gas) yang harganya saat ini jauh lebih murah,

Tata Motors kata Biswadev telah mengadopsi teknologi CNG pada mobil produksinya berbeda dengan mobil di Indonesia yang harus disetting dulu, sejak awal produksinya memang didisain berbahan bakar CNG.

Kalau bahan bakar sudah banyak stasiun bahan bakar CNG di Indonesia maka sebenarnya dapat mengadopsi mobil berteknologi ini mengingat harga gas saat ini masih sangat murah.

Biswadev mengatakan, untuk penjualan mobil sangat bergantung pada tingkat kesejahteraan masyarakat apakah pada posisinya di menengah atau atas, India sendiri saat ini justru didominasi mobil premium.

Kebijakan pemerintah untuk mobil murah tidak masalah, sepanjang setiap harinya masyarakat dapat menggunakan transportasi masal, persoalannya transportasi masal di Indonesia masih kurang kualitasnya, jelas Biswadev.

Terkait mobil nasional sangat tepat untuk Indonesia karena dapat menggerakkan industri terkait, tetapi sebaiknya dikembangkan menggunakan teknologi sendiri, jelas Biswadev.

Biswadev mengatakan, Tata awalnya merupakan perusahaan yang bergerak di bidang lokomotif 1945, kemudian 1954 menggandeng Mercedes Benz, 1969 memproduksi bus dan truk, 1999 mobil penumpang.

"Jadi kami memang belajar sendiri tidak pernah membeli teknologi dari negara lain, semuanya merupakan disain sendiri, sangat dimungkinkan untuk transfer teknologi untuk Indonesia tetapi bergantung ke pasar," ujar dia.

Biswadev mengatakan, Tata juga siap untuk meningkatkan bisnis di Indonesia dari distribusi menjadi perakitan atau bahkan merelokasi pabrik meskipun belum ada target waktu untuk merealisasikannya. (G001)
Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2013