Jakarta (ANTARA) - Lordstown Motors Corp mengatakan pada Senin (23/5) waktu setempat bahwa produksi truk listrik Endurance pada tahun 2021 tidak akan mencapai target karena perusahaan mengalami masalah permodalan.

"Modal dapat membatasi kemampuan kami untuk membuat kendaraan sebanyak yang kami inginkan," kata Kepala Eksekutif Lordstown Motors Corp ​​​​​​, Steve Burns, dikutip dari India Times, Rabu.

Saat ini, perusahaan sedang mencari cara untuk mendapatkan lebih banyak modal yang dapat membiayai produksi kendaraan listrik dari berbagai mitra, tanpa harus menjual sebagian besar saham yang dimiliki.

Saat ini, General Motors juga sudah memiliki saham di perusahaan rintisan yang berfokus pada kendaraan listrik tersebut.

Burns mengatakan, produksi Endurance tahun ini akan dibatasi menjadi "hanya 50 persen" dari ekspektasi perusahaan yang sebelumnya mencapai 2.200 truk.

Dia mengatakan, truk Endurance masih berada di jalur produksi untuk diluncurkan pada September, sedangkan proses pra-produksi dijadwalkan bulan Juli nanti.

Adapun untuk urusan pengiriman, mereka menjadwalkan akan dimulai pada kuartal keempat di tahun 2021.

Perusahaan yang berbasis di Ohio, Amerika Serikat menyatakan bahwa kemunduran itu terjadi sebagai imbas virus corona yang menyebabkan masalah pada rantai pasokan industri yang lebih mahal, sehingga menguras dana perusahaan.

Lordstown mengatakan, mereka mengincar pinjaman ulang dari pemerintah AS melalui Departemen Energi AS. Mereka juga berharap proses itu akan terselesaikan dalam "beberapa bulan ke depan."

Sebelumnya, mereka dikatakan sedang mencari pinjaman sebanyak 200 juta dolar AS dari program Advanced Technology Vehicle Manufacturing, yang juga memberikan pinjaman lebih besar kepada Tesla Inc, Ford Motor Co dan Nissan Motor Co Ltd untuk operasional pabrik.

Dengan adanya kejadian ini, saham Lordstown merosot pada Maret lalu. Saham Lordstown juga jatuh pada pekan lalu setelah Ford memperkenalkan pickup F-150 listriknya, Lightning, dan mengatakan pada awalnya akan menargetkan pelanggan komersial yang sama dengan segmen yang diincar oleh Lordstown.

Burns mengatakan, mereka mulai mengerjakan kendaraan keduanya, van serba listrik, dan akan menunjukkan prototipenya pada musim panas ini.

Lordstown melaporkan kerugian kuartal pertama sebesar 125,2 juta dolar AS, atau 72 sen per saham, lebih besar dari kerugian 28 sen per saham yang diharapkan oleh analis yang disurvei oleh Refinitiv.

Baca juga: Lordstown Motors dan Hydra Design Labs bangun truk listrik bersama

Baca juga: Strategi Ford tingkatkan penjualan truk listrik yang baru diluncurkan


Perang Truk Listrik

Pasar truk pickup Amerika atau dunia mungkin akan berubah dalam beberapa bulan ke depan setelah pabrikan besar maupun startup otomotif meluncurkan mobil listrik.

General Motors dan Ford Motor akan bersaing dengan perusahaan teknologi Tesla, dan di saat yang sama mereka berperang melawan startup otomotif Lordstown Motors dan Rivian.

Karakteristik konsumen mobil Amerika memang berbeda, mobil berbodi besar dengan tampang yang garang seperti truk pickup menjadi favorit di sana. Berbeda dengan kawasan Asia atau Eropa yang menjadikan mobil jenis itu sebagai kendaraan logistik.

Untuk itu, General Motors dan Ford Motor yang berstatus pabrikan besar sangat mementingkan segmen truk pickup, dan mereka sangat serius menggarap versi listrik dari model tersebut agar tidak kehilangan konsumennya di masa depan.

"Truk pickup EV adalah katalisator untuk kepemilikan kendaraan listrik secara umum," kata manajer senior perusahaan riset Cox Automotive, Vanessa Ton, dikutip dari Detroit Free Press.

"Ini momen yang sangat penting. EV dimulai sebagai sedan, lalu kami mulai melihat lebih banyak SUV tersedia dalam versi EV. Tapi pickup adalah jenis yang berbeda. Ada pola pikir dan budaya di baliknya -- jika Anda mengira konsumen tidak mempertimbangkannya -- itu sebuah kesalahan," kata dia.

Cox Automotive yang juga menjadi investor untuk startup mobil listrik Rivian telah menggelar riset konsumen pada akhir tahun lalu. Mereka menemukan bahwa 2 dari 5 konsumen yang ingin membeli pickup baru dalam dua tahun ke depan mempertimbangkan untuk membeli versi pickup listrik.

Sepanjang tahun 2020, menurut data Cox Automotive, sebanyak 2,3 juta mobil pickup berbahan bakar bensin laku terjual di AS.

Mereka menyimpulkan bahwa konsumen memiliki keinginan untuk membeli pickup listrik, namun yang menjadi kendala adalah harga yang masih tinggi dan kecemasan terkait daya jelajah mobil EV.

Untuk itu, mereka memprediksi bahwa "perang" antarperusahaan otomotif di segmen pickup listrik akan berlangsung sengit dalam lima tahun ke depan, untuk memperkenalkan mobil listrik.

Mike Ramsey, analis otomotif dan transportasi publik Gartner Inc yang berbasis di Detroit, mengemukakan bahwa pickup listrik hanya akan menarik minat konsumen baru atau kalangan berdompet tebal.

"Pasar pickup listrik pada awalnya akan menjadi pasar mewah," kata Ramsey. "Jika ada substitusi, kemungkinan itu adalah campuran dari SUV besar dan truk pickup kelas atas, dan orang-orang yang beralih dari mobil kelas atas."

Orang kaya dan anak muda berstatus pembeli mobil pertama akan menjadi konsumen pickup listrik karena mereka sebenarnya tertarik pada teknologi baru yang ditawarkan.

Konsumen jenis itu, kata Ramsey, juga memiliki dana untuk memasang perangkat pengisian mobil listrik di rumah, sehingga tidak pusing memikirkan keterbatasan infastruktur pengisian EV di jalanan umum.

Ia juga menilai, kalangan kaya yang membeli mobil jenis ini umumnya memiliki mobil lain di rumah untuk mengantisipasi perjalanan darurat saat baterai mobil belum diisi.

"Pasti ada kendaraan lain di rumah untuk kendaraan 'perjalanan jauh ke Utara'," kata Ramsey.

Baca juga: Ford F-150 Lightning 2022 sudah bisa dipesan

Baca juga: Ford konfirmasi gandeng SK Innovation buat baterai

Baca juga: Ford dan SK Innovation akan bangun pabrik baterai di AS

Pewarta: KR-CHA
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2021