Jakarta (ANTARA) - Tekanan angin pada ban kendaraan merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan oleh para pengemudi, mengingat tingginya angka kecelakaan yang berawal dari ban kempes atau pecah, baik pada kendaraan niaga maupun pribadi.

"Pemeliharaan tekanan angin sangat berpengaruh terhadap kinerja ban, kestabilan mengemudi, kemampuan pengereman yang lebih baik, bahkan penggunaan bahan bakar yang lebih hemat," ujar National Sales Manager Hankook Tire Sales Indonesia Ahmad Juweni melalui keterangan pers yang diterima di Jakarta, Rabu.

Ban dapat mengalami kerusakan hingga pecah jika digunakan dengan tekanan angin yang tidak sesuai dengan muatan beban dan kecepatan mengemudi terutama pada kendaraan niaga. Oleh sebab itu Ahmad menganjurkan pengendara kendaraan niaga untuk memperhatikan dan memeriksa tekanan angin pada ban secara berkala demi keamanan.

Ahmad kemudian membagikan tiga cara untuk menjaga tekanan angin atau inflasi ban agar menghasilkan kinerja yang optimal.

1. Sesuaikan tekanan angin

Sesuaikan tekanan angin dengan berat muatan (beban) yang diangkut. Pengemudi truk maupun manajer armada harus memastikan bahwa tekanan angin sudah sesuai dengan beban yang diangkutnya. Usahakan untuk tidak memberikan tekanan angin yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.

"Ban dengan tekanan angin terlalu tinggi dapat menyebabkan aus di bagian tengah, serta membuat ban lebih mengembang secara tidak wajar, sehingga mudah pecah jika terkena benturan," jelas Ahmad.

Daya cengkram ban juga akan berkurang dan membuat kendaraan terasa melayang saat laju kendaraan tinggi di jalan tol. Ini yang membuat truk sulit dikendalikan dan berpotensi pada kecelakaan.

Ban yang diisi dengan tekanan rendah juga akan menyebabkan keausan pada bagian sisi ban (shoulder). Ban dengan tekanan angin rendah dapat mengalami kerusakan separation (lapisan ban terlepas).

Tekanan angin yang rendah membuat laju kendaraan semakin berat, sehingga membuat mesin bekerja lebih keras dan menurunkan efisiensi bahan bakar.

"Pengemudi kerap kali menyepelekan tekanan angin pada ban, padahal nyawa ban sendiri terletak dari tekanan angin yang ideal. Secara umum, jika beban muatan lebih besar dari standar, maka, tekanan angin harus ditambah dan kecepatan harus dikurangi," ujar Ahmad.

Hankook Tire dikatakan Ahmad juga dapat membantu masing-masing fleet customer menghitungkan tekanan ideal untuk masing-masing kendaraan sesuai dengan beban yang diangkut.

Baca juga: IAMI tegaskan akan fokus pada pasar kendaraan niaga

Baca juga: GIICOMVEC 2020 akan fokus pada kendaraan niaga yang aman


2. Periksa tekanan angin secara berkala

Usahakan untuk memeriksa tekanan angin setiap dua minggu sekali atau setiap akan melakukan perjalanan.

"Sebaiknya pengecekan tekanan angin dilakukan saat suhu ban sedang dingin karena saat suhu panas, tekanan angin sedang meningkat sehingga pembacaan tekanan angin menjadi tidak akurat. Selain itu, alat ukur tekanan angin (pressure gauge) perlu diperhatikan keakuratannya dengan melakukan kalibrasi secara berkala," kata Ahmad.


3. Perhatikan kondisi telapak dan dinding samping ban.

Jika ditemukan batu-batu atau benda tajam yang menyelip di antara telapak ban agar segera dilepas untuk menghindari kerusakan atau kebocoran ban.

"Jika ada luka pada telapak ban karena paku atau benda tajam lainnya, segera lepas ban dan perbaiki untuk menghindari kerusakan yang lebih serius," ujar Ahmad.


Baca juga: DFSK: Pasar kendaraan niaga menjanjikan untuk Indonesia

Baca juga: Daimler Indonesia bentuk divisi khusus kendaraan niaga Mercedes-Benz

Baca juga: Mobilgrease EP 2, pelumas "gemuk" untuk kendaraan niaga berat

Pewarta: M048
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2020