Stockholm (ANTARA News) - Produsen mobil asal Swedia Volvo mendukung inisiatif Jerman untuk membakukan "colokan" pengisian energi pada mobil listrik sebagai upaya menumbuhkan pasar kendaraan non-emisi.

"Untuk menyatukan peningkatan popularitas kendaraan listrik dan memastikan pelanggan sepenuhnya memiliki teknologi tersebut... maka diperlukan infrastruktur pengisian yang sederhana, standar, cepat dan global," ujar Peter Mertens, wakil presiden riset Volvo dilansir dari AFP, Rabu.

Sejak 2009, produsen mobil seperti Volvo telah memperkenalkan setidaknya 30 model mobil listrik atau "plug-in hybrid" di Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang dan beberapa negara Eropa.

Lonjakan popularitas mobil listrik dan hybrid, yang dapat menggunakan bensin atau listrik, sebagian besar disebabkan meningkatnya harga minyak dan isu lingkungan.

Satu dari lima dari seluruh Volvo XC90s yang terjual adalah jenis "plug-in hybrid", menurut perusahaan itu. Sementara pada Januari Volvo XC90 menjadi "car of the year" di Amerika Utara.

"Kami melihat bahwa pergeseran ke arah mobil listrik sudah sepenuhnya berlangsung," kata Mertens.

Namun daya tahan baterai kendaraan listrik atau hybrid bisa jadi masalah karena dikembangkan secara standar dan seragam di stasiun pengisian.

Perusahaan Charging Interface Initiative yang berbasis di Berlin di mana Volvo bergabung bersama sejumlah mobil Jerman dan asosiasi telah mengembangkan skema sertifikasi untuk digunakan pada mobil di seluruh dunia.

"Sistem pengisian standar global sangat diperlukan. Kurangnya standar tersebut adalah salah satu hambatan utama untuk pertumbuhan pangsa pasar kendaraan listrik," kata Mertens.

Charging Interface Initiative didirikan oleh Audi, BMW, Daimler, Mennekes, Opel, Phoenix Contact, Porsche, TUV SUD dan Volkswagen.  Adapun Volvo Car kini dimiliki oleh grup Geely dari Tiongkok.
Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2016