Detroit (ANTARA News) - Fiat Chryser akan menarik sedikitnya 1,4 juta unit mobil di Amerika Serikat guna menyematkan piranti lunak yang dapat mencegah peretas mengambilalih kendali atas mesin, kemudi, dan sejumlah sistem lain kendaraan.

Pengumuman tersebut disampaikan, Jumat, oleh Fiat Chrysler Automobiles (FCA) US sehari setelah ada laporan, bahwa peneliti keamanan siber menggunakan jaringan nirkabel untuk mematikan mesin Jeep Cherokee di tengah perjalanan. 

Ini jelas potensi masalah serius, yang menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan kendaraan yang bisa terhubung internet itu.

Peneliti menggunakan sistem telematik Fiat Chrysler untuk meretas ke dalam satu Cherokee yang dikendarai seorang sukarelawan di jalan bebas hambatan. Dengan memakai ponsel, dia bisa mengambilalih dan memerintahkan kendali atas mesin, kemudi bahkan pengereman mobil lain. Potensi masalah serius. 

Kendaraan yang ditarik termasuk sejumlah mobil dengan penjualan tertinggi bagi FCA, termasuk Jeep Grand Cherokee dan Cherokee SUV model 2014 dan 2015, serta Dodge Challenger 2015.

FCA menyatakan mereka akan mengirimkan stik memori kepada para pelanggan yang terpapar demi memperbaharui piranti lunak kendaraan mereka dan menambah sistem keamanan secepatnya, demikian seturut salah seorang juru bicara mereka.

FCA juga telah meminta penyedia telekomunikasi mereka untuk memblok akses kendali serupa yang digunakan para peneliti.

Badan Keamanan Lalu Lintas Jalan Bebas Hambatan Nasional (NHTSA) sempat menyatakan akan menginvestigasi apakah solusi FCA memperbaharui piranti lunak mereka sudah cukup memberi keamanan bagi para pelanggan dari jangkauan peretas.

Meski FCA sendiri dalam pengumuman penarikan kendaraan mereka tidak menyebutkan ada cedera yang disebabkan.

Jurubicara NHTSA mengatakan, ini penarikan pertama kendaraan atas alasan keamanan siber dan sejumlah pakar mengatakan, hal itu sepatutnya menjadi peringatan keras bagi industri otomotif dan sekitarnya.

Sejumlah pakar mengatakan risiko dari peningkatan konektivitas yang terhubung perangkat fisik bukan hanya mengancam mobil namun juga rumah sakit, fasilitas kimiawi dan pabrik.

"Ini masalah besar dan persoalan yang terstruktur dalam konsep perangkat terhubung internet (Internet of Things)," kata peneliti keamanan lembaga nirlaba Institut Sains Komputer Internasional di Berkeley, California, Nicholas Weaver.

Menurut Weaver saat ini terdapat perbedaan dalam ranah pengaturan, apakah mobil dan sejumlah perangkat lain dapat diakses melalui berbagai cara, lewat ponsel pintar misalnya, atau diatur agar hanya bisa berkomunikasi melalui satu server terkonfirmasi saja.

Produk-produk yang didesain agar bisa diakses banyak cara termasuk menggunakan ponsel pintar membuka celah penyerangan besar yang mudah digempur. 

Sedangkan apabila didesain terbatas maka memberi opsi agar perusahaan memiliki server yang mengompilasi segudang informasi tentang pengguna, dan berujung pada kekhawatiran tentang pelanggaran privasi, kata Weaver.

Sementara itu, ahli pengamanan perangkat terhubung, Ed Skoudis, mengatakan, fakta FCA segera menarik mobil setelah laporan penelitian terbit adalah peringatan bagi para manufaktur perangkat terhubung internet bahwa hal ini bisa menimbulkan kerugian besar bagi mereka.

Skoudis berharap ini bakal membuat para perusahaan memikirkan kembali berapa banyak yang mereka keluarkan untuk sistem keamanan dalam proses desain demi menghindari langkah penarikan serupa, gugatan hukum bahkan ancaman dari pengetatan regulasi, demikian Reuters.

Pewarta: Gilang Galiartha
Editor: Ade P Marboen
Copyright © ANTARA 2015