Karawang (ANTARA) - Di antara hal baru yang bisa dilihat kala berkunjung ke fasilitas pembelajaran elektrifikasi dari PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Toyota Mirae berbahan hidrogen atau Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV) adalah salah satunya.

xEV Center presenter Nathasya Natalia saat ditemui di xEV Center, Karawang, Jawa Barat, Senin (22/1) mengatakan Toyota Mirai ini dihadirkan di fasilitas mulai pertengahan tahun 2023 atau sekitar setahun sejak xEV Center diresmikan pada Mei 2022.

Cara kerja kendaraan ini alih-alih menggunakan kombinasi mesin dan baterai seperti pada kendaraan hybrid, tetapi memanfaatkan fuel cell untuk menggerakkan mobil.

"Dia itu punya salah satu platform di sini untuk me-generate listrik melalui stack. Jadi hidrogen itu akan di-generate sehingga bisa menghasilkan listrik dan ujungnya dia akan keluar air," jelas Nathasya.

Baca juga: Bawa Minicab MiEV ke GIIAS, MMKSI pelajari peluang LCV listrik

Saat kendaraan dibawa pada kecepatan rendah misalnya 30 km/jam, maka energi yang didapatkan berasal dari baterainya.

"Jadi kalau awal-awal berkendara makinlah kecepatannya normal 50-60 km/jam, ada energi yang dialirkan ke baterai untuk mengisi ulang baterai, sementara mobil tetap bekerja menggunakan energi yang dihasilkan dari hidrogen," kata dia.

"Fungsi? Sama seperti hybrid, keduanya akan menyuplai, karena dia butuh akselarasi penuh jadi baik dari stack-nya dan dari baterai akan menyuplai sehingga dia bisa akselarasi penuh atau ngebut," imbuh Nathasya.
Tampak samping Toyota Mirai berbahan hidrogen atau Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV) di xEV Center milik PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat, Senin (22/1/2024). (ANTARA/Lia Wanadriani Santosa)


Tak hanya tentang cara kerja kendaraan, Nathasya juga membahas mengenai perilaku berkendara khususnya mobil listrik. Senada dengan disampaikan General Manager Engineering Management Divison PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Irwin Tristanto dalam wawancara pada kesempatan yang sama, menekankan pengendara merencanakan perjalanan dengan lebih matang termasuk memprediksi jarak dan daya baterai.

"Mau ke mana, berapa km dan reduce berapa persen (baterainya). Jadi saat ini harus benar-benar terencana di mana bisa nge-charge, jangan sampai sudah 20 persen baru cari charger-an. Memang dianjurkan, mendekati 20 persen itu sudah mulai mencari (stasiun pengisian)," jelas dia.

Ini relatif berbeda dengan kendaraan konvensional berbahan bakar minyak yang sudah ditunjang dari ketersediaan tempat pengisian bahan bakar cukup memadai.

Di sisi lain, pengetahuan tentang baterai juga perlu dimiliki demi menghindari kekhawatiran semacam munculnya percikan api dari baterai.

"Baterai itu teknologi terus dikembangkan. Battery management system itu yang menjaga supaya yang dikhawatirkan semisal ada percikan api, tidak terjadi. Bagaimana konsumen mengetahui dan percaya, dibuktikan dengan pemakaian," jelas Nathasya.

Selain FCEV, pengunjung juga bisa mendengarkan penjelasan presenter tentang tipe teknologi kendaraan lainnya seperti Hybrid Electric Vehicle (HCEV) termasuk simulasi cara kerja baterainya, bertanya kiat agar optimal mengemudikannya, hingga merasakan pengalaman berkendara mobil listrik Toyota.

Mereka juga mendapatkan informasi tentang pentingnya menuju era elektrifikasi dan carbon neutrality, contoh implementasi ekosistem hijau dalam kehidupan demi menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Baca juga: Hidrogen jadi alternatif kendaraan ramah lingkungan masa depan

Baca juga: Strategi Toyota Indonesia dalam masa transisi NZE 2060

Baca juga: CEO Toyota prioritaskan hidrogen untuk kendaraan masa depan
Pewarta:
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2024