Jakarta (ANTARA) - Toyota Motor Corp dan Honda Motor Co menentang dan mengkritisi proposal yang diajukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Partai Demokrat Amerika Serikat yang mengajukan rencana penambahan insentif pajak senilai 4.500 dolar AS kepada pekerja di sektor otomotif mobil listrik (EV).

Tambahan insentif pajak itu rupanya hanya diberikan kepada pegawai yang tergabung dalam serikat pekerja namun tidak diberikan kepada mereka yang tidak bergabung dalam serikat pekerja.

Melansir Reuters, Minggu, Toyota berpendapat bahwa rencana itu mendiskriminasi para pekerja di industri otomotif yang memilih untuk tidak bergabung dengan serikat pekerja.

Baca juga: Tabrak pejalan kaki di kampung atlet, Toyota e-Pallete disetop operasi

RUU itu nantinya akan dipilih pada Selasa (21/9) dan menjadi salah satu bagian dari RUU pengeluaran senilai 3,5 triliun dolar AS yang diusulkan.

Jika disetujui seluruh anggota, maka aturan itu lebih menguntungkan industri yang memiliki pabrik mobil dengan perwakilan serikat pekerja.

Honda merasa aturan tersebut tidak adil, perwakilan mereka mengatakan "Aturan itu mendiskriminasi kendaraan listrik yang dibuat para pekerja di Amerika Serikat jika hanya berdasarkan apakah para pekerja tergabung dalam serikat pekerja atau tidak. Rekan pekerja kami di Alabama,Indiana, dan Ohio yang akan membuat kendaraan listrik kami pun layak mendapatkan perlakuan yang adil serta setara dari Kongres,".

RUU itu diperkirakan akan menelan biaya senilai 33 hingga 34 miliar dolar AS selama 10 tahun dan bisa meningkatkan kredit pajak maksimum hingga 12.500 dolar AS untuk kendaraan listrik.

Nilai itu naik dari angka sebelumnya yaitu 7.500 dolar AS, nilai 12.500 dolar AS itu sudah termasuk insentif senilai 500 dolar AS karena menggunakan baterai yang diproduksi di Amerika Serikat.

Sebenarnya, RUU itu merupakan bagian penting dari tujuan Presiden Joe Biden agar bisa memastikan penjualan kendaraan listrik hingga 50 persen di 2030 dan bisa meningkatkan pekerjaan serikat pekerja di Negeri Paman Sam.

Kehadiran RUU tersebut juga menghapus kredit pajak pembuat mobil setelah mereka mencapai 200.000 kendaraan listrik yang terjual.

Rancangan yang akan diajukan pekan depan itu, turut menciptakan kredit baru yang lebih kecil untuk kendaraan listrik bekas hingga 2500 dolar AS.

Tiga pembuat mobil listrik besar di Amerika Serikat yaitu GM, Ford Motor Co, dan Stellantis NV yang merupakan bagian dari Chrysler tentu diuntungkan aturan itu karena mereka diwakili oleh serikat pekerja United Auto Workers (UAW).

Pembuat mobil asing yang beroperasi di Amerika Serikat termasuk Tesla yang tidak memiliki serikat pekerja, mewakili para pekerja mereka dengan berkoordinasi dengan UAW agar bisa mengatur pabrik di Amerika Serikat.

Toyota yang termasuk sebagai perusahaan non- Amerika Serikat terus berupaya agar insentif tersebut juga bisa didapatkan oleh para pekerja mereka.

"Kami akan berjuang untuk memfokuskan uang pembayaran pajar untuk membuat kendaraan listrik dapat diakses oleh konsumen Amerika yang tidak mampu membeli mobil dan truk dengan harga yang tinggi," ujar perwakilan Toyota.

Baca juga: Toyota pangkas target produksi imbas kekurangan suku cadang dan chip

Baca juga: Toyota akan buat mobil listrik 50 persen lebih murah

Baca juga: Toyota diperkirakan habiskan 13,5 miliar dolar kembangkan baterai EV

Pewarta: L010
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2021