Jakarta (ANTARA) - UUnit Ford yang berada di Mexico mengatakan, blokade kereta api di negara bagian Sonora perbatasan Meksiko, memberi pengaruh yang besar kepada produksi dari pabrik itu. Hal itu juga berdampak terhadap impor dan ekspor dari dan ke Amerika Serikat (AS).

Selama beberapa hari terakhir, anggota komunitas lokal Yaqui melakukan unjuk rasa terkait hak atas tanah yang lebih baik, mereka telah memblokir rel kereta api dari Sonora ke Amerika Serikat yang digunakan untuk memindahkan suku cadang mobil, serta biji-bijian dan baja.

"Blokade yang terjadi baru-baru ini dari jaringan kereta api di Guaymas, Sonora, telah mempengaruhi operasi di pabrik Hermosillo kami," kata Ford dalam pernyataan email yang dikutip dari Reuters, Kamis.

Baca juga: Nissan Magnite, calon pesaing Ford EcoSport dan Hyundai Venue

Baca juga: Ford Bronco lahir kembali, begini tampilannya sekarang


"Saat ini, kami menghadapi situasi yang tidak berhubungan dengan kami, tetapi mempengaruhi impor dan ekspor," tambah dia.

Blokade yang dilakukan oleh komunitas itu telah mengacaukan perlintasan perbatasan Mexicali-California dan Nogales-Arizona, dan sejauh ini setidaknya telah menghalangi lewatnya 15 kereta yang mengangkut sekitar 150.000 ton kargo, menurut asosiasi perkeretaapian Meksiko AMF.

Presiden AMF, Jose Zozaya memperkirakan akibat pembelokiran yang dilakukan oleh kelompok Yaqui itu telah menyebabkan kerugian lebih dari 75 juta peso ($ 3,4 juta).

Zozaya mengatakan para demonstran telah memblokir jalur kereta api selama 10 hari. Para pengunjuk rasa menuntut pemerintah memenuhi komitmen untuk pembangunan sosial di seluruh wilayah adat, menurut kantor berita EFE.

Zozaya mengatakan asosiasi telah melakukan pembicaraan dengan pemerintah dan pengunjuk rasa, dan dia meyakinkan situasi akan dapat segera teratasi.

Baca juga: Kendaraan mirip dengan Ford Bronco akan hadir di China

Baca juga: Ford bersama Intel Mobileye kembangkan teknologi terbaru

Baca juga: GM hingga Toyota berencana akhiri mobil model subkompak di AS

Pewarta: KR-CHA
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2020