Jakarta (ANTARA) - Meningkatnya penggunaan mobil listrik di China mendorong perusahaan otomotif mengembangkan teknologi yang dapat memanfaatkan komponen baterai bekas.

Shanghai Automotive Industry Corporation (SAIC) bersama General Motors (GM) dan Wuling menggarap peluang itu dengan mendirikan perusahaan patungan yang mengoperasikan pembangkit energi dari baterai bekas itu.

Baca juga: Busi bermasalah, FAW "recall" 45 ribu sedan B30

Baca juga: Wuling Rong Guang, minivan listrik harga di bawah Rp200 jutaan


Pembangkit energi itu terletak di Provinsi Guangxi, mengandalkan tumpukan baterai bekas dari gudang Baojun di Liuzhou. Baterai bekas itu dirancang kembali untuk menyimpan daya dari pembangkit energi lokal, misalnya dari angin atau matahari (solar cell).

Fasilitas energi itu dapat dimanfaatkan masyarakat saat jam-jam sibuk dimana mayoritas rumah tangga menggunakan listrik. Metode kerja pembangkit energi itu adalah menyimpan daya dari angin dan matahari, menyimpannya, kemudian didistribusikan kepada jaringan mereka.

"Pembangkit listrik menggunakan baterai lama dari pengembangan kendaraan listrik Baojun E100 dan E200 SAIC-GM-Wuling," tulis GM dalam laman resmi perusahaan, dikutip Jumat.

Mereka menyebutkan bahwa pembangkit energi itu memiliki kapasitas penyimpanan hingga 1.000 kWh.

Baca juga: Tandai produk global, Wuling Victory akan pakai emblem silver

Baca juga: Wuling rilis gambar Victory untuk pasar domestik

Baca juga: Wuling tambah varian Hong Guang, bisa sampai 8 penumpang

Pewarta: A069
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2020