Jakarta (ANTARA News) - Sepeda listrik karya mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, yang "nyempil" di tengah kemegahan Hall B3 Jakarta International Expo pada ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2018 menarik perhatian Presiden Joko Widodo.

Presiden Jokowi bahkan membubuhkan tandatangannya pada sepeda yang diberi merek PitX tersebut.

"Kami senang, speechless, engga nyangka. Saya bertemu dengan Presiden saja engga nyangka, apalagi ini ditandatangani sepedanya," kata anggota tim pengembang PitX Angga Doni dan Amelia di Jakarta, Kamis.

PitX secara harafiah berarti sepeda x, karena pit merupakan kosakata bahasa Belanda yang belakangan diserap sebagai kosakata bahasa Jawa untuk menyebut sepeda dan lantas pit diberi tambahan X.

Sepeda listrik ini dibuat khas, karena bentuknya diadopsi dari sepeda onthel khas Indonesia, yang sering digunakan pada zaman Belanda.

Kecepatan maksimum sepeda ini dapat mencapai 60 kilometer per jam dengan jarak tempuh hingga 100 kilometer.

Dengan teknologi pengisian baterai cepat atau fast charging, sepeda tersebut hanya membutuhkan waktu 40 menit untuk mengisi baterai. 

Sedangkan dengan teknologi biasa, dibutuhkan waktu 4 jam hingga baterai terisi penuh dan dapat digunakan kembali.
 
Tim pengembang sepeda listrik PitX yang juga mahasiswa Universitas Islam Indonesia Angga Doni dan Amelia yang mejeng di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2018. (ANTARA News/ Sella Panduarsa Gareta)


Angga menyampaikan, beberapa komponen yang ada pada sepeda tersebut, antara lain baterai lithium, controller, dan motor penggerak yang ditanam di berbagai sisi PitX.

"Ini kami kembangkan sejak 2017. Kalau mau diprouduksi, ini harusnya memang lebih dirapihkan," ujar Angga.

Sebelum meninggalkan stand tersebut, ;anjut Angga, Jokowi tak lupa meninggalkan pesan yang akan senantiasa mereka ingat.

"Pak Jokowi bilang terus kembangkan, Ini ciri khas Indonesia," pungkas Angga menyampaikan pesan Jokowi.

Baca juga: Hati Presiden ada di industri otomotif, kata Menperin

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2018