Jakarta (ANTARA News) - "Jika kita tetap konsisten bahwa Indonesia ideal untuk menjadi basis produksi suku cadang, sangat mungkin dalam waktu tidak terlalu lama kita bisa besar di Asia Tenggara atau bahkan di Asia Timur".

Pernyataan tersebut disampaikan Menko Perekonomian Hatta Rajasa saat membuka ajang tahunan Indonesia International Motor Show 2011 di Jakarta International Expo pada 22 Juli.

Ia mengatakan kemungkinan Indonesia menjadi basis produksi suku cadang yang kuat di dunia, hanya dapat dilakukan dengan membuat konektivitas yang baik antara dunia otomotif dengan infrastruktur.

Syarat lainnya untuk menjadi basis produksi adalah Indonesia harus terus meningkatkan efisiensi pada produksi, serta memastikan rantai suplai bahan baku tetap terjaga.

Keyakinan bahwa Indonesia akan menjadi basis produksi suku cadang di Asia Timur juga dirasakan Dewan penasehat Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia  Bambang Trisulo.

"Keyakinan saya 80 persen untuk ini, asalkan konektivitas dijalankan, di dalamnya rantai pasokan bahan baku lancar dan infrastruktur juga diperhatikan. Indonesia bisa menjadi basis produksi suku cadang nomor satu kurang dari 10 tahun," katanya.

Lalu, bagaimana langkah-langkah Gaikindo menuju hal tersebut? Berikut beberapa jawaban atas pertanyaan ANTARA News dari Ketua Gaikindo yang juga merupakan Presiden Direktur PT Astra Daihatsu Motor, Sudirman Mr.

T: Kalau menjadi basis suku cadang di Kawasan Asia Timur apakah mungkin?
 "Kita (industri otomotif) berani saja asal semua (industri terkait) terintegrasi.

Daihatsu sudah jadi production base di sini mulai 2007 untuk produk Daihatsu dan Toyota di luar Jepang, dan sekarang kami tingkatkan (produksinya). Kami kan memproduksi kendaran kolaborasi Xenia-Avanza, Terrios-Rush.

Untuk Gran Max pun kami sudah ekspor, sudah dua tahun ini ekspor kami setiap tahunnya 900 unit. Untuk domestik kami memproduksi mobil penumpang Luxio, karena Grandmax lebih banyak digunakan untuk niaga.

Sejauh ini pabrikan sudah, production base juga sudah, ke depan kami ingin gunakan research and development di Indonesia. Secepatnya kita ingin mempunyai rancang bangun, nah cikal bakalnya bagi Daihatsu ya mobil A-Concept yang desainnya sudah dihasilkan sendiri oleh putra-putri Indonesia.

Kami mengirimkan karyawan ADM untuk sekolah di Jepang satu atau dua tahun dan mempelajari berbagai aspek, mulai engineering, production preparation, cost control, dan sebagainya. Hasilnya, kita sudah bisa mendesain sendiri dan menjadi mobil konsep."

Jadi bagaimana caranya untuk bisa menjadi basis produksi?
 "Yang penting kami tekankan soal ketersediaan bahan baku supaya industri otomotif kita dapat nilai tambah lebih.

Kami sudah mendengar Krakatau Steel sudah melakukan kerjasama dengan Posco, perusahaan asal Korea Selatan. Kami berharap mereka Krakatau Steel dan Posco bisa segera berproduksi dan juga mensuplai industri kendaraan bermotor.

Jadi semua benar-benar terintegrasi, ketergantungan kita terhadap bahan baku  akan menurun."

Seberapa besar pasokan bahan baku Krakatau Steel dapat membantu industri otomotif di tanah air?
"Kita mengharapkan sebenarnya, kalau kita memiliki kemampuan manufaktur yang lebih baik sehingga mampu menciptakan competitiveness dibanding negara lain tentu untuk menjadi basis produksi di Asia Timur bukan tidak mungkin terjadi.

Masalah kita adalah ketergantungan bahan baku utama untuk industri otomotif ini, yang masih 100 persen kami impor.

Kalau ditanya berapa sekarang kandungan lokal produk otomotif? Berdasarkan local purchase value 85 persen, tapi kalau ditarik lagi ke belakang kan bahan bakunya impor. Kalau local content dipotong dengan raw material maka lokal masih 40 hingga 45 persen."

Bagaimana dengan "conectivity", seberapa penting perannya untuk mendukung industri otomotif?
"Hal tersebut memang benar untuk menunjang kinerja industri otomotif. Sambungan antar `business line` itu sangat dibutuhkan untuk transportasi, guna mempercepat mobilitas antar koridor ke koridor sehingga benar jika disebutkan sebagai penunjang.

Kondisi conectivity antar industri terkait saat itu bukan "seret" tapi masalahnya ada di infrastruktur yang tidak menunjang."
 (V002/T010)
Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2011