Teheran  (ANTARA News) - Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mungkin bisa dinobatkan sebagai salesman paling sukses.  Mobil Peugeout 504 keluaran 1977 bia dia jual seharga 2,5 juta dolar Amerika Serikat (sekitar 22,5 miliar rupiah).

Kendaraan buatan Prancis itu harga pasarannya di Indonesia  sudah masuk kategori "tergantung kondisi", bisa belasan juta rupiah tapi bisa puluhan juta rupiah. Jadi, Ahmadinejad berhasil menjual mobil dengan harga lebih dari 1.000 kali lipat.

Harga tersebut tercapai pada  lelang lintas bangsa pada hari Selasa, kata laman web badan pemerintah Iran seperti dikutip AFP.

"Perusahaan pembeli mobil itu dengan nilai 25 miliar rial tidak ingin disebutkan jatidirinya", kata Badan Kesejahteraan Negara (SWO) setelah lelang di kota baratdaya Abadan.

"Klien saya membeli mobil tersebut karena ketertarikan pribadi kepada Presiden Ahmadinejad dan semangat anti-kesombongan dan anti-Zionisme sang presiden," kata pengacara Mahmoud Esari, yang bertindak atas nama pembeli mobil itu.

Ketua Badan Kesejahteraan Ahmad Esfandiari mengatakan "terdapat lebih dari setengah juta peminat, yang terdaftar sebagai penawar di situs SWO, kebanyakan dari mereka beralasan karena Presiden Ahmadinejad memiliki hidup sederhana dan karena prinsip anti-kesombongan dan anti-Zionis".

Ia mengatakan tawaran itu datang dari "Eropa, Asia dan Amerika Serikat".

Pada 1 Januari, Ahmadinejad meluncurkan laman www.ahmadinejad-car.com untuk mengundang tawaran lelang bagi mobilnya, yang dananya digunakan untuk membiayai pembangunan 60.000 rumah bagi warga cacat dan perempuan miskin, yang bekerja untuk keluarga mereka.

Setelah pertama kali terpilih sebagai presiden pada 2005, ia diwajibkan oleh undang-undang untuk mengungkapkan hartanya dan kemudian mendaftarkan rumah berusia 40 tahun dengan luas 175 meter persegi di daerah kelas menengah bawah di timur Teheran, tabungan di dua bank dan mobil Peugeot tua sebagai hartanya.

Setelah terpilih lagi secara kontroversial pada 2009, Ahmadinejad berjanji melakukan "reformasi perumahan, tenaga kerja dan ekonomi" sebagai agenda utama setelah harga rumah meningkat pada masa bakti pertamanya.
(KR-DLN/B002)
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2011