Jakarta (ANTARA News)- Kepanikan besar muncul setelah delapan juta mobil ditarik dari pasaran tetapi krisis tak berfungsinya pedal gas di mobil-mobil Toyota ternyata tak seseram yang ditakutkan.

Departemen Transportasi Amerika Serikat (AS), seperti yang dikutip Daily Mail Rabu (11/8), telah melakukan penyelidikan dan menemukan bahwa lebih dari setengah kasus ternyata disebabkan pengemudi yang salah menginjak pedal.

Para insinyur yang meneliti kasus itu menemukan hanya satu kejadian yaitu pedal gas tersangkut di karpet mobil dan tidak ada pedal yang macet atau lambat kembali ke posisi semula.

Temuan itu tampaknya akan memperkuat klaim Toyota bahwa sistem mereka transparan meski ribuan kecelakaan dan lusinan kematian telah dikaitkan dengan permasalahan itu.

Toyota yang merupakan pabrikan mobil terbesar di dunia sebelumnya telah menarik delapan setengah juta mobil merk Toyota dan Lexus awal tahun ini karena berbagai macam kerusakan seperti pedal gas yang lengket, tak berfungsinya sistem rem, dan karpet mobil yang membahayakan.

Mayoritas keluhan terjadi AS tetapi para pengemudi di Inggris juga mengeluh karena kecepatan mobil mereka meningkat tidak terkendali.

Penelitian oleh otoritas transportasi AS, yang membongkar rekaman di 'kotak hitam' dari 58 kendaraan dengan 93 korban tewas, menemukan hasil yang sangat berbeda.

Temuan awal mempelihatkan bahwa perangkat kendaraan berfungsi dengan baik tetapi pengemudi yang justru teledor, bukannya menginjak pedal rem malah terus menjejak pedal gas.

35 dari 58 kasus yang di tampilkan oleh data itu menunjukkan sebenarnya pedal rem sama sekali belum ditekan, melainkan hanya pedal gas.

Hanya dalam 14 kejadian yang mengindikasikan pedal rem telah diinjak dan sembilan kasus lagi menunjukkan bahwa mereka 'terlambat' menginjak pedal rem.

Bahkan, satu rekaman menunjukkan pengemudi yang bersamaan menginjak pedal gas dan rem.

Melalui penelaahan kendaraan, wawancara dengan pengendara, analisis data, para penyidik itu menemukan bahwa hanya satu kejadian saja pedal gas tersangkut di karpet mobil dan tidak ada kasus pedal yang lengket.

"Penelitian terbatas sejauh ini belum menemukan tidak berfungsinya alat keselamatan selain pada pedal gas yang lengket atau pedal gas yang tersangkut," rilis laporan itu.

Toyota telah melakukan investigasi internal terkait masalah itu dan menemukan fakta sebaliknya bahwa karpet mobil memang bisa menahan pedal gas dan mekanisme pedal memungkinkannya untuk kembali ke posisi semula dengan pelan.

'Recall' yang dilakukan ditujukan untuk menyelesaikan masalah itu.

Beberapa pakar mengatakan penelitian itu kurang kuat.

"Itu bukan kotak hitam pesawat udara dan mereka berpedoman pada sistem elektronik yang paling dulu dicurigai," kata Sean Kane, konsultan keselamatan yang mewakili para penggugat Toyota.

Toyota telah didenda sebesar 11 juta Dollar oleh pihak berwenang di AS karena terkesan terlambat menanganni kasus itu.

Laporan-laporan memperkirakan pabrikan otomotif asal Jepang itu mengetahui permasalahan itu bertahun-tahun sebelumnya tetapi tidak merasa perlu melakukan 'recall'.

Setelah reputasinya tercoreng, perusahaan itu lalu meluncurkan iklan berorientasi keamanan berkendara untuk kembali meyakinkan konsumen bahwa kendaraan mereka tidak akan mengalami kecelakaan lagi sembari menawarkan promosi seperti nol persen pembiayaan dan servis gratis.

"Toyota berkomitmen untuk lebih mendengarkan pelanggan kami dengan penuh perhatian dan terus menyelidiki permasalahan gas yang tidak disengaja itu," bunyi sebuah pernyataan Toyota.
(Ber/A038/BRT)
Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2010