Jakarta (ANTARA News) - Ada yang cukup unik dan menarik jika Anda datang ke arena Indonesia International Motor Show (IIMS) 2015, di Kemayoran, Jakarta, kali ini. Ada jajaran motor dan skuter modern yang bercita-rasa retro dan klasik. 


Skuter atau scooter (bahasa Inggris) adalah kendaraan roda dua yang rangkanya tidak menyilang dari setang ke jok pengemudi dan pembonceng, dan roda-rodanya tidak lebih besar dari 14 inchi dan lebih kecil dari delapan inchi. 


Bicara skuter, ingatan orang di Indonesia terlanjur akrab dengan Vespa dari Piaggio, Italia. Sebetulnya, pembuat skuter itu banyak, terkhusus pada dasawarsa ’50-an hingga ’60-an. Bahkan Harley Davidson membuat skuter, Harley Davidson Topper.


Demikianlah, di IIMS 2015, ada barisan Seta 125 dari Benelli yang rupanya mirip Lambretta dari Innocenti, Italia. Seta 125 berkapasitas 125 cc digerakkan mesin berkarburator dengan transmisi otomatik. 


Ada empat warna yang dipamerkan untuk dijual, yaitu putih, hijau toska, kuning gading, dan hitam. Mereka ditawarkan di kisaran harga sekitar Rp16.480.000.


Eropa merupakan surganya rancang-bangun skuter. Peugeot juga membuat skuter dan sudah lama sekali merek otomotif Prancis ini tidak lagi hadir dengan skuternya di Indonesia. Kali ini mereka menawarkan skuter modern retro-klasik, Django. 


Django dihadirkan impor utuh dari Prancis, yang terdiri dari Django Evasion, Django Allure, dan Django Sport. Basis mesin ketiga varian ini sama, 150 cc injeksi bertransmisi otomatik, dengan daya maksimal 11,13 tenaga kuda. Dia memiliki roda berdiameter pelek 12 inchi yang dilengkapi rem cakram. 


Dari ketiga variannya, Django Sport yang punya jok tunggal namun bisa dipasangi jok pembonceng dibanderol paling murah, sekitar Rp35 juta off-the-road, sedangkan Django Allure paling mahal, Rp37.900.000 off-the-road. 


Peugeot Django ini memiliki model sangat klasik, dengan dimensi paling besar dan panjang dibandingkan semua skuter yang dipajang di IIMS 2015 ini.


Kurang pas bicara skuter jika tidak membahas Vespa. Jajaran retro-klasik modernya juga hadir, yaitu Vespa S 125 cc, Vespa Sprint, Vespa Primavera, dan Vespa GTS Super, yang paling besar-bongsor dan tentu paling mahal. 


Masing-masing seri ini diilhami dari para pendahulu mereka. Paling jelas adalah Vespa Sprint, yang bagi generasi ’60-an hingga ’80-an masih sangat akrab dengan kehadiran mereka di jalan-jalan kota Indonesia. 


Paling ngetop adalah Sprint V, yang memang mesinnya paling ngacir untuk ukuran skuter dan motor saat itu, dengan mesin berpenggerak empat percepatan dua langkah-nya. 


Vespa LX yang saat hadir disambut hangat pecinta skuter Tanah Air memang telah dihentikan produksinya, namun Vespa Sprint diharapkan bisa menjawab kegemaran dan keperluan berskuter generasi kini akan merek Vespa. 

Pewarta: Ade P Marboen
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2015