Jakarta (ANTARA) - Jeep dikabarkan akan meninggalkan mesin pembakar konvensional pada 2030 mendatang, karena kebanyakan kendaraan sudah beralih ke teknologi listrik dan juga hybrid,

Kepala eksekutif Jeep, Christian Meunier baru-baru ini telah mengkonfirmasi bahwa mesin diesel yang digunakan oleh Jeep saat ini berada di kaki terakhir mereka.

"Saya pikir diesel di Eropa akan menghilang, dan penjualan kendaraan diesel akan berkurang secara signifikan. Kendati demikian, bukan berarti kami harus menghentikan kendaraan dengan mesin diesel, Beberapa pasar akan terus memiliki mesin V8, [beberapa] akan terus memiliki mesin enam silinder, [dan beberapa] akan terus menggunakan diesel," ungkap Christian Meunier yang dikutip dari CarsCoops, Selasa.

Lebih lanjut dia membahas masa depan V8, Meunier mengatakan tidak dapat dihindari bahwa V8 tidak akan ada selamanya, tetapi untuk saat ini, pembuat mobil berusaha mempertahankannya sebaik mungkin.

"Dalam jangka menengah jelas bahwa kami ingin melindungi V8 berperforma tinggi selama kami bisa, terutama di pasar di mana ada permintaan untuk itu, dan masuk akal untuk dilakukan," kata dia.

"Pada saat yang sama, sangat jelas bahwa elektrifikasi memberi kami kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak kinerja, dengan cara yang lebih baik; Akselerasi [lebih cepat] daripada mesin pembakaran internal," tambah dia.

Jeep terus memperluas jangkauan model elektrifikasinya dan awal bulan ini, meluncurkan Grand Cherokee 4xe PHEV 2022. Pembuat mobil juga telah mengumumkan rencana untuk menawarkan EV di setiap segmen SUV yang disayanginya. Ini akan mencakup Wagoneer/Grand Wagoneer yang akan menelurkan varian all-electric pada tahun 2025.

Baca juga: Jeep Grand Cherokee Trackhawk akan berakhir November tahun ini?

Baca juga: Jeep Compass 2022 hadir dengan serangkaian pembaruan di Australia

Baca juga: Jeep luncurkan Wrangler edisi HUT ke-80 di Australia

Pewarta: KR-CHA
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2021