Penyesuaian pajak dan pengisian daya, tantangan mobil listrik di Indonesia

Rabu, 17 Januari 2018 21:19 WIB
Penyesuaian pajak dan pengisian daya, tantangan mobil listrik di Indonesia
Pengisian daya listrik Nissan Leaf. (ANTARA News/Alviansyah)
Jakarta (ANTARA News) - Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto, memaparkan setidaknya ada dua tantangan utama dalam pengembangan mobil listrik di Indonesia.

Pertama adalah penyediaan stasiun pengisian daya listrik dan yang kedua adalah penyesuaian pajak mobil listrik atau sejenisnya agar harga jual ke masyarakat menjadi lebih terjangkau.

"SPLU (stasion pengisian listik umum) adalah syarat utama untuk mengembangakan mobil listrik dan hibrida, walaupun model charging antar keduanya berbeda," kata Jongkie Sugiarto dalam diskusi Prediksi Industri Otomotif Indonesia 2018 di Thamrin Nine, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Jongkie berpendapat, sudah saatnya pemerintah di kota-kota besar Indonesia menyiapkan peraturan daerah (perda) yang mewajibkan pusat perbelanjaan menyediakan stasiun pengisian daya listrik di lokasi parkir.

Pengisian daya listrik itu tidak harus gratis dan boleh dikenakan biaya, lanjut dia, yang penting tempat pengisian daya mobil listrik semakin banyak dan mudah dijangkau masyarakat.

"Charging tidak mesti gratis, bisa membayar pakai uang atau kartu kredit, atau pakai alat," katanya. "Banyak cara untuk segera menyediakan pengisian daya listrik."

Ia juga menyambut positif langkah PLN untuk menyiapkan stasiun pengisian daya listrik guna menyambut perkembangan teknologi otomotif di masa mendatang.

"Kami menyambut baik mempercepat penerapan pengisian daya listrik," katanya.

Sedangkan tantangan kedua adalah agar pemerintah menyesuaikan tarif pajak kendaraan listrik agar harganya lebih terjangkau oleh masyarakat.

"Selama tarif pajaknya belum sesuai, maka sulit karena harganya mahal. Mobil listrik dari sana sudah mahal karena pakai dua mesin.
Ditambah pajak 125 persen, semakin mahal. Siapa yang mau beli?" katanya.

Jongkie menambahkan, "Di Malaysia mobil hibrida laku karena dikasih insentif sehingga lebih murah ketimbang mobil konvesional."

Lebih lanjut, ia mengatakan Gaikindo telah mengajukan hasil kajian dari lembaga riset sebuah universitas dalam negeri kepada Kementerian Perindustrian, tentang perlunya menurunkan tarif pajak untuk low carbon emission vehicle (LCEV) dan sedan.

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2018

Para penjual mobil bekas diyakini akan merasakan keuntungan dari trend meningkatnya minat masyarakat terhadap mobil-mobil segmen sport utility vehicle (SUV) ...
Produk kaca film semakin berkembang dengan teknologi yang semakin canggih guna memenuhi kebutuhan para pengguna kendaraan dari berbagai segmen mobil yang ...
Pimpinan eksekutif Audi, Rupert Stadler, mengatakan akan tetap memimpin perusahaan pembuat mobil mewah asal Jerman itu kendati masalah-masalah terkait skandal ...
Alibaba AI Labs mengumumkan bahwa Daimler, Audi, dan Volvo Cars menjadi merek mobil global pertama yang mengadopsi sistem kecerdasan buatan (Artificial ...
Toyota Motor Corp pada Kamis (24/5) mengumumkan rencana untuk mendirikan fasilitas perakitan komponen kendaraan berbahan bakar hidrogen guna meningkatkan ...