Penghisap minyak terbesar kedua, China pikir-pikir larang mobil fosil

Senin, 11 September 2017 14:24 WIB
Penghisap minyak terbesar kedua, China pikir-pikir larang mobil fosil
Ilustrasi - Mobil listrik asal China BYD e6. (https://www.flickr.com/photos)
Beijing (ANTARA News) - China masih mempelajari waktu yang tepat untuk melarang produksi dan penjualan mobil berbahan bakar fosil, kata Wakil Menteri Industri Xin Guobin, yang meramalkan proses peralihan menuju mobil listrik merupakan "masa-masa sulit" bagi produsen mobil.

China masih mempelajari pelarangan mobil berbahan bakar fosil karena akan membawa perubahan besar dalam perkembangan industri mobil di China, sebagai negara konsumen minyak kedua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat.

Xin Guobin tidak menyebutkan secara rinci kapan China sebagai pasar mobil terbesar di dunia akan menerapkan larangan tersebut. Namun Inggris dan Prancis melarang mobil bensin dan diesel mulai 2040.

"Beberapa negara telah menentukan waktu kapan harus menghentikan produksi dan penjualan mobil berbahan bakar tradisional," kata Xin, Wakil Menteri Perindustrian dan Teknologi Informasi dalam sebuah acara industri otomotif di Tianjin dilansir dari Xinhua, Minggu waktu setempat.

"Kementerian juga telah memulai penelitian yang relevan dan akan membuat lini waktu dengan departemen terkait. Langkah tersebut tentunya akan membawa perubahan besar bagi perkembangan industri mobil kami, "katanya.

Guna mengatasi polusi udara dan mengetatkan kompetisi antara produsen domestik dengan produsen global, China menetapkan target seperlima untuk mobil hibrida dan plug-in listrik, dari total penjualan mobil di China pada 2025.

Xin mengatakan industri otomotif akan menghadapi "masa-masa yang penuh gejolak" dalam beberapa tahun peralihan mobil listrik pada 2025. Untuk itu dia meminta produsen mobil menyesuaikan diri dengan tantangan dan strategi mereka.

Konsumen minyak terbesar


Pelarangan penjualan mobil bertenaga bensin dan diesel akan berdampak signifikan pada permintaan minyak di China sebagai negara konsumen minyak terbesar kedua di dunia.

Bulan lalu, perusahaan negara China National Petroleum Corp (CNPC) mengatakan permintaan energi di China akan mencapai puncaknya pada 2040, lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya tahun 2035 karena konsumsi bahan bakar transportasi meningkat.

Song Qiuling, pejabat kementerian keuangan senior, mengatakan pada Sabtu (9/9), subsidi pemerintah yang ditujukan untuk memulai industri otomotif berenergi baru bisa disalahgunakan jika dilakukan dalam jangka panjang.

Dia mengatakan China secara bertahap akan menarik subsidi pada sektor itu, dan mempercepat pembentukan kebijakan akumulasi kredit untuk mendukung industri ini, demikian Reuters.

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © 2017

Perusahaan produsen kendaraan roda empat asal India, Tata Motors menarget penjualan 400 unit kendaraan komersial  di Sumatera Selatan pada tahun ...
Kia Motors Corp akan menarik (recall) lebih dari 507.000 kendaraan di Amerika Serikat (AS) atas masalah sistem kelistrikan yang menyebabkan kantung udara ...
Perusahaan pembiayaan PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) meluncurkan situs e-commerce jual beli motor bekas momotor.id guna meneruskan ...
Fiat Chrysler Automobiles (FCA) akan menyediakan lebih dari 62.000 unit kendaraan swakemudi kepada perusahaan teknologi Alphabet Inc. Puluhan ribu mobil ...
Atraksi Gajah Monster menjadi salah satu acara yang paling ditunggu pengunjung pada Otobursa Tumplek-Blek 2018 di Kemayoran, Jakarta, 21-22 Juli. Gajah ...