Jakarta (ANTARA News) - Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) menolak rencana kenaikan bus TransJakarta dari Rp3.500/penumpang menjadi Rp5 ribu/penumpang, mengingat sarana dan prasarana yang ada belum berjalan maksimal. Ketua DTK-J, Edie Toet Hendratno, di Jakarta, Sabtu, mengatakan, DTK-J belum melihat adanya alasan yang kuat untuk menaikkan tarif bus TransJakarta, seiring masalah keterlambatan bus apakah sudah bisa diatasi. "Atau adanya peningkatan jumlah jaringan (koridor) yang dapat ditempuh atau apakah telah dilakukan peningkatan kenyamanan fasilitas pemberhentian dengan tambahan AC/penyejuk udara," katanya. DTK-J sendiri, kata dia, berpendapat jika Pemprov DKI Jakarta menghendaki publik menerima kenaikan tarif tanpa rasa kecewa, maka terlebih dahulu perlu dilakukan audit kinerja penyelenggaraan pelayanan angkutan publik bus TransJakarta. "Termasuk pula audit atas aliran penerimaan dan belanja investasi dan pelayanan bus TransJakarta. Serta audit itu diketahui warga melalui publikasi media massa," katanya. Ia mengatakan usulan subsidi pemerintah kepada penyediaan jasa layanan bus TransJakarta dalam APBD 2008, mencapai Rp230 miliar, namun tidak diimbangi dengan jumlah warga Jakarta yang menikmatinya baru lima persen. Oleh karena itu, kata dia, rasionalitas ketimpangan serta argumen kebijakan menaikkan tarif, perlu diketahui oleh publik juga. "DTK-J sendiri mengusulkan agar Gubernur DKI Jakarta merumuskan lebih jelas aspek-aspek penyelenggaraan layanan publik bus TransJakarta yang diketahui publik," katanya.(*)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2007