Pesawat bertenaga listrik pertama Australia mulai lepas landas

Jumat, 5 Januari 2018 15:44 WIB
Pesawat bertenaga listrik pertama Australia mulai lepas landas
Ilustrasi: pesawat bertenaga listrik. (ANTARA News/ www.lilium-aviation.com)

Sydney (ANTARA News) - Pesawat bertenaga listrik pertama Australia telah berhasil menyelesaikan penerbangan perdananya di Perth, setelah lepas landas dari Bandara Jandakot dan melakukan serangkaian tes di udara.

"Sangat mulus, semuanya sesuai rencana," Direktur Keuangan Electro.Aero Richard Charlton mengatakan kepada Xinhua.

"Pesawat tersebut menyelesaikan pola sirkuit di depan pesawat bertenaga bensin biasa dan melintasi dua sirkuit dengan lepas landas dan mendarat dengan sempurna," ujarnya.

Dibeli dari Eropa, pesawat bernama Pipistrel Alpha Electro dua tempat duduk dengan mesin tunggal itu adalah pesawat produksi yang didukung oleh dua baterai lithium-ion dan bisa diisi ulang hanya dalam satu jam.

Meskipun orang yang skeptis mungkin merasa agak tidak nyaman untuk terbang dengan pesawat bertenaga listrik, namun tim di Electro.Aero mengatakan bahwa terbang dengan pesawat listrik sebenarnya jauh lebih aman daripada melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat bertenaga bahan bakar konvensional.

Ini karena mesin bensin memiliki ratusan komponen yang bergerak, yang bisa pecah, aus atau gagal.

Penggerak listrik di sisi lain jauh lebih sederhana, artinya masalah yang berpotensi timbul akan semakin sedikit.

Selain itu, saat berada di ketinggian, mesin bertenaga listrik tidak berisik bahkan hampir tidak mengeluarkan suara.

"Semua yang kami lakukan memiliki keamanan sebagai prioritas yang paling utama. Pemangku kepentingan yang krusial bagi kami adalah regulator, yaitu Otoritas Keselamatan Penerbangan Sipil dan Penerbangan Australia," papar Charlton.

Pengusaha Australia Barat yang terkenal, Josh Portlock, yang mendirikan Electro.Aero dua tahun lalu, juga memiliki perusahaan drone industri dan memiliki visi untuk merintis konversi semua teknologi penerbangan ke tenaga listrik.

Jadi, sebagian besar operasi Electro.Aero difokuskan pada produksi dan pengembangan sistem ventilasi bertenaga listrik yang akan memberi kekuatan pada pesawat generasi berikutnya di seluruh dunia.

Meskipun semua terlihat positif, namun mungkin masih cukup lama sebelum jet penumpang yang lebih besar melakukan transisi ke penggerak listrik.

Alpha Electro hanya mampu terbang selama satu jam dengan 30 menit biaya cadangan sebelum harus mengisi energi kembali.

Tapi menurut Charlton, hal itu dapat diperbaiki karena teknologi baterai secara radikal terus membaik.

Dan dengan biaya sekitar 2 dolar AS per jam, teknologinya jauh lebih hemat biaya daripada bahan bakar jet.

Dalam beberapa bulan mendatang, pesawat akan digunakan untuk melatih calon pilot.

"Pesawat ini akan dioperasikan siswa sampai mereka memiliki lisensi pilot," kata Charlton.

"Ini penting karena ini membuktikan teknologinya, mendapatkan penerimaan publik dan membuat pilot memenuhi syarat untuk menggunakan teknologi penerbangan listrik," tutupnya. Demikian diberitakan Xinhua.

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © 2018

PT YHI Indonesia sebagai distributor ban merek Yokohama di Indonesia menghadirkan varian terbaru, Yokohama BluEarth RV-02, yang dirancang khusus untuk mobil ...
Sebanyak 1.079.308 unit kendaraan roda empat tercatat telah terjual secara wholesales (pabrik ke dealer) sepanjang tahun 2017, menurut data yang dirilis ...
Yamaha memperkenalkan purwa rupa motor robot tanpa pengendara bertenaga listrik yang dinamai "Motoroid" yang bisa berinteraksi dengan manusia, pada pameran ...
Chief Executive BMW, Harald Krueger, menyatakan pihaknya mematok target untuk menjadi pabrikan mobil mewah dengan penjualan tertinggi pada 2020 sekaligus ...
Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto, memaparkan setidaknya ada dua tantangan utama dalam pengembangan mobil ...