Regulasi LCEV harus mendorong kemajuan industri otomotif dalam negeri

Jumat, 17 November 2017 09:53 WIB
Regulasi LCEV harus mendorong kemajuan industri otomotif dalam negeri
Ilustrasi mobil listrik. (pixabay)

Jakarta (ANTARA News) - Regulasi kendaraan rendah emisi (Low Carbon Emission Vehicle/LCEV) yang saat ini masih disiapkan oleh pemerintah diharapkan tidak sekadar membuat harga mobil jenis tersebut menjadi lebih terjangkau, melainkan ikut mendorong memajukan industri otomotif Tanah Air.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian dan Kementerian Keuangan tengah merampungkan regulasi LCEV untuk menetapkan sejumlah fasilitas, salah satunya adalah pemberian insentif fiskal.

"Intinya kami mendukung kebijakan pemerintah yang tujuannya membuat emisi menjadi lebih baik," kata Vice President Toyota Astra Motor, Henry Tanoto, seusai meresmikan Toyota Eco Gallery di SMA N 9 Surabaya, beberapa waktu lalu.

Pemerintah Indonesia menargetkan bisa memproduksi 20 persen kendaraan listrik dari total produksi nasional pada 2025. Namun peralihan menuju mobil listrik itu tentu akan berdampak ke banyak sektor, antara lain industri otomotif dalam negeri dan rantai pasokan di dalamnya karena banyak perbedaan antara parts mobil listrik dengan mesin konvensional .

Henry Tanoto menjelaskan terdapat dua hal penting yang harus dilakukan menuju penerapan LCEV di Indonesia. Pertama adalah dilakukan secara bertahap mulai dari kendaraan hibdrida sebagai jembatan menuju era mobil listrik, dan yang kedua adalah harus memperhatikan industri otomotif dalam negeri.

"Juga harus mendorong perubahan ke industri. Jangan sampai perubahan ini hanya untuk, misalnya impor," kata Henry Tanoto.

PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) berharap kebijakan LCEV yang sedang disusun pemerintah mampu menciptakan harga mobil jenis tersebut agar lebih terjangkau di Indonesia.

"Itu mobil mahal, kalau tidak ada subsidi tentunya harganya juga tidak akan kebeli," kata Direktur Pemasaran dan Penjualan MMKSI, Irwan Kuncoro, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selain itu, Irwan menyampaikan bahwa kebijakan yang mengatur tentang ketersediaan infrastruktur pengisian baterai untuk mobil listrik juga dibutuhkan.

PT Nissan Motor Indonesia pun sudah memperkenalkan teknologi e-Note pada Nissan Note yang diharapkan bisa menjembatani peralihan mobil bermesin konvensional ke era mobil listrik. Mobil tersebut menggunakan mesin bensin kecil yang berperan sebagai genset yang mengisi daya pada baterai mobil sehingga tak membutuhkan pengisian daya di jalan.

(Baca: Mobil listrik Nissan Note tak perlu isi daya di jalanan)

Sebelumnya, pada awal pekan ini, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan tengah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan dalam kaitan pemberian fasilitas insentif pada regulasi yang diperkirakan akan rampung pada akhir tahun ini.

Dengan adanya fasilitas insentif itu, maka kendaraan LCEV diharapkan memiliki harga yang kompetitif agar lebih diminati konsumen.

(Baca: Regulasi kendaraan listrik diharapkan selesai akhir 2017)

Editor: Ida Nurcahyani

COPYRIGHT © 2017

PT Pertamina Lubricants memberikan promo khusus ulang tahun Pertamina ke-60 pada 10 Desember 2017, melalui #CUKUPBAYAR60% untuk pelumas Enduro atau Fastron di ...
Agen pemegang merek Nissan di Indonesia, PT Nissan Motor Indonesia (NMI), berencana segera menggelar roadshow berkeliling ke sejumlah kota di Indonesia guna ...
Deretan skuter bongsor Yamaha dengan tampilan yang berbeda akan tampil pada final kontes modifikasi Customaxi Area Sumatera Utara di Plaza Fair Medan, 9-10 ...
Musim hujan sudah datang. Hampir tiap hari sebagian besar wilayah Indonesia diguyur hujan bahkan hingga menyebabkan banjir. Namun bukan berarti banjir menjadi ...
Populasi skuter bongsor kelas 150 cc kian meningkat di Indonesia dalam dua tahun terakhir. Meningkatnya populasi motor itu juga dibarengi pergeseran segmen ...