Masih amati 2017, ACC belum targetkan peningkatan pembiayaan

Jumat, 17 Februari 2017 17:38 WIB | 11.606 Views
Masih amati 2017, ACC belum targetkan peningkatan pembiayaan
Chief Executive Astra Credit Companies (ACC) Jodjana Jody (kiri), Deputy Chief Sales Officer ACC Ezar Kumendong (tengah) dan GM Sales Markerting DSO Hendriyadi (kanan) dalam temu media di Jakarta, Jumat (17/2/2017). (ANTARA News/Gilang Galiartha)
Jakarta (ANTARA News) - Perusahaan pembiayaan Astra Credit Companies menargetkan pencairan pembiayaan mereka mencapai Rp27 triliun di sepanjang tahun 2017, atau tidak meningkat dari pencapaian mereka di tahun 2016 yang mencapai Rp27,5 triliun.

Pencapaian pembiayaan tahun 2016 tersebut, meningkat 24 persen dibandingkan tahun 2015 sebesar Rp22 triliun sekaligus melampaui target mereka yang sebelumnya mematok angka Rp25 triliun atau pertumbuhan 10 persen.

Pasalnya, menurut Deputy Chief Sales Officer ACC, Ezar Kumendong, pihaknya masih mengamati situasi ekonomi baik di Indonesia maupun secara global sehingga belum mematok target peningkatan pencairan pembiayaan pada 2017.

"Mengenai targetnya sendiri, di 2017 kami mencanangkan target tidak mau terlalu ambisius, kami coba di Rp27 triliun. Kami akan coba wait and see dulu lah dengan kondisi ekonomi seperti ini," kata Ezar dalam temu media di Jakarta, Jumat.

Dari pencapaian Rp27,5 triliun pada 2016, 90 persen masih berasal dari kontribusi sektor pembiayaan otomotif yang menjadi tulang punggung bisnis ACC, dengan rincian 72 persen di pembiayaan mobil baru dan 18 persen mobil bekas, sedangkan sisa 10 persen disumbangkan oleh pembiayaan multiguna, seperti pendidikan dan properti.

Dari pembiayaan senilai tersebut, ACC meraup keuntungan bersih sebesar Rp1,062 triliun yang dinilai cukup baik di tengah lonjakan tingkat kredit macet atau non-performing loan (NPL) di industri dari 1,5 persen pada 2015 menjadi 3 persen pada 2016.

Tahan NPL di bawah 1 persen Lonjakan NPL tersebut, kata Chief Executive ACC, Jodjana Jody, menjadi salah satu aspek pertimbangan yang membuat pihaknya belum berani menargetkan peningkatan pencairan pembiayaan pada 2017.

"Jadi NPL ini ujian yang masih akan dihadapi oleh semua industri keuangan," kata Jody.

"Belum lagi efek terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat yang menimbulkan banyak ketidakpastian," ujarnya menambahkan.

Di ACC sendiri NPL pada 2016 mengalami sedikit kenaikan dari 0,6 persen menjadi 0,62 persen.

"Memang hanya sedikit beda di desimal. Nah untuk tahun ini paling nyaman NPL itu di bawah 1 persen di kisaran 0,5-0,6 persen. Memang kalau NPL risiko terlalu kecil malah memperlihatkan kami kurang berani mengambil pelanggan," kata Jody.

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2017

Pengembangan teknologi mobil swakemudi menjadi salah satu topik yang dibahas Audi dalam pertemuan tahunan mereka, pekan lalu, yang juga membahas serangkaian ...
Pabrikan otomotif Meksiko, Giant Motors Latinoamerica, tengah mengembangkan purwarupa taksi elektrik untuk menggantikan taksi berbahan bakar minyak yang ...
Pabrikan otomotif Italia, Ferrari, baru saja merampungkan perombakan besar-besaran untuk museum mereka di kota Maranello, Italia.Perombakan tersebut menambah ...
Produsen mobil asal Jerman, BMW, memperlihatkan kendaraan terbarunya dari seri 8 yaitu BMW M8 GTE dalam sebuah kegiatan balap Nurburgring 24-hour Race di ...
PT Shell Indonesia meluncurkan produk pelumas mesin sepeda motor terbarunya, Shell Advance 4T AX5 Scooter 10W-30, yang diperuntukkan khusus bagi pengguna ...