Jakarta (ANTARA) - Pabrikan otomotif asal Jerman, Mercedes-Benz mendapatkan tekanan cukup berat di tengah persaingan industri otomotif global yang semakin ketat dan memiliki potensi untuk menutup dua fasilitas produksinya di dalam negeri.
CarsCoops pada Senin melaporkan, langkah ini mengikuti jejak rekan satu negaranya yakni Volkswagen yang juga tengah menghadapi tekanan terhadap operasional manufaktur di Jerman.
Kepala Produksi Mercedes-Benz, Michael Schiebe, mengatakan perusahaan masih berupaya mempertahankan seluruh fasilitas produksi di Jerman.
Namun, langkah tersebut bergantung pada kemampuan perusahaan meningkatkan efisiensi dan menekan biaya.
Baca juga: Mercedes siapkan unit buat bersaing dengan BMW M3 EV
“Tujuan jelas perusahaan adalah mempertahankan semua lokasi kami di Jerman,” kata Schiebe saat berbicara dengan pekerja di pabrik Sindelfingen.
Namun, ia memperingatkan bahwa jika upaya tersebut tidak tercapai, Mercedes harus menutup satu pabrik perakitan dan satu fasilitas powertrain di Jerman.
Mercedes, perlu mencapai kesepakatan baru mengenai pengurangan biaya dengan serikat pekerja IG Metall.
Perusahaan juga meminta adanya perubahan kondisi operasional, untuk meningkatkan produktivitas manufaktur di Jerman.
Baca juga: Mercedes-AMG GLC baru akan menawarkan lebih dari 900bhp
Ancaman tersebut langsung mendapat penolakan dari IG Metall. Serikat pekerja menilai ancaman penutupan pabrik bukan cara untuk menentukan masa depan perusahaan dan menyatakan siap memberikan perlawanan jika pekerja ditekan untuk memberikan konsesi.
Mercedes belum mengungkap fasilitas mana yang berpotensi ditutup. Saat ini, perusahaan mengoperasikan tiga fasilitas perakitan kendaraan dan tujuh pabrik powertrain di Jerman.
Tekanan Mercedes tidak hanya datang dari tingginya biaya produksi di dalam negeri. Kebangkitan produsen China, turut mengubah peta persaingan industri otomotif global.
Baca juga: Mercedes seharga Rp168 miliar yang tak bisa diparkir di garasi rumah
Merek seperti BYD, Geely, GAC, dan Changan menawarkan kendaraan dengan harga yang dinilai lebih kompetitif dibandingkan banyak merek tradisional Eropa.
Dampaknya terlihat jelas di China. Penjualan Mercedes pada kuartal kedua anjlok 30 persen, sementara perusahaan mencatat kerugian sekitar 800 juta dolar AS di pasar tersebut.
Di sisi lain, tarif perdagangan turut memperberat tekanan. Mercedes mencatat kerugian sekitar 1,1 miliar dolar AS, akibat tarif Amerika Serikat sepanjang 2025.
Kondisi tersebut menunjukkan tantangan yang dihadapi Mercedes bukan sekadar soal penjualan, tetapi juga kemampuan mempertahankan struktur produksi di tengah perubahan peta persaingan otomotif dunia.
Baca juga: Mercedes-AMG jajaki pengembangan coupe GT dua pintu bertenaga listrik
Baca juga: Mobil listrik Smart #2 dari Geely dan Mercedes rilis 2026 di China
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026