Jakarta (ANTARA) - Produsen otomotif asal Korea Selatan, Hyundai Motor melihat pasar Eropa sebagai sinyal peringatan yang cukup kuat, bagi pasar otomotif Amerika Serikat (AS) terkait agresifnya produsen mobil China.
CarsCoops pada Minggu (20/9) waktu setempat mengabarkan, dengan sajian harga yang lebih rendah dan perkembangan teknologi yang cepat, membuat merek China terus memperbesar pangsa pasar, sekaligus menekan penjualan dan profitabilitas produsen lama.
CEO Hyundai Motor Jose Munoz mengatakan pengalaman Eropa, khususnya Inggris, menunjukkan bagaimana cepatnya perubahan pasar ketika hambatan terhadap kendaraan China relatif terbatas.
"Inggris, yang sebelumnya merupakan pasar yang sangat menguntungkan dan kuat, telah menjadi seperti China. Semua penjual teratas adalah orang China karena tidak ada hambatan," kata Munoz.
Baca juga: Trump: Mobil China boleh masuk jika diproduksi di AS
Baca juga: Trump isyaratkan terbuka bagi China produksi mobil listrik di AS
Kekhawatiran tersebut muncul ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump membuka kemungkinan produsen otomotif China membangun kendaraan di AS dengan syarat melakukan investasi dan produksi di dalam negeri.
Saat ini, kendaraan listrik buatan China menghadapi tarif sekitar 100 persen di AS sehingga membatasi akses langsung produk tersebut ke pasar Amerika.
Namun, perubahan kebijakan dapat membuka ruang bagi produsen China untuk memperluas bisnisnya melalui fasilitas produksi lokal.
Munoz menilai pengalaman Eropa, patut menjadi perhatian. Di Uni Eropa, pangsa merek mobil China telah menembus lebih dari 9 persen pada paruh pertama 2026.
Sementara di Inggris, yang tidak menerapkan tarif khusus seperti Uni Eropa terhadap mobil China, porsinya mencapai sekitar 15 persen dari registrasi mobil baru.
Baca juga: China rilis 3 EV baru per hari, CATL ingatkan kegagalan baterai massal
Tekanan tersebut semakin terasa karena kendaraan China di sejumlah pasar Eropa, dapat ditawarkan dengan harga 30-40 persen lebih rendah dibandingkan model pesaing, menurut Munoz.
Kondisi itu tetap terjadi meskipun Uni Eropa, telah menerapkan tarif terhadap mobil listrik buatan China setelah penyelidikan mengenai subsidi negara.
Uni Eropa, kini menyiapkan aturan "Made in Europe" yang akan menetapkan persyaratan kandungan lokal untuk kendaraan yang dijual di kawasan tersebut.
Munoz, yang pernah menangani operasi Nissan di China, mengakui perkembangan industri otomotif negara tersebut berlangsung sangat cepat, terutama dari sisi inovasi dan teknologi.
Di AS, CEO Ford Jim Farley sebelumnya memperkirakan merek China dapat memasuki pasar Amerika dalam lima hingga 10 tahun.
Bagi Hyundai, perkembangan di Eropa menjadi gambaran mengenai besarnya perubahan yang dapat terjadi ketika hambatan perdagangan dikurangi.
Baca juga: 9 dari 10 mobil terlaris China pada Agustus adalah mobil listrik
Baca juga: China ingatkan produsen mobilnya agar tak pangkas harga secara agresif
Baca juga: Penjualan mobil Tesla di China turun 12,4 persen, tapi ekspornya naik
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026