Jakarta (ANTARA) - Jaguar Land Rover (JLR) membuka program pengurangan tenaga kerja secara sukarela yang berpotensi memangkas sekitar 4.000 posisi dalam dua tahun ke depan, sebagai bagian dari upaya perusahaan otomotif asal Inggris tersebut menghemat biaya hingga 1,7 miliar poundsterling.
Dilansir dari Motor1, Senin (7/9) waktu setempat, program tersebut terutama menyasar pekerja bergaji tetap dan jajaran manajemen JLR.
Perusahaan belum memastikan jumlah posisi yang pada akhirnya akan hilang melalui program tersebut. Namun, target pengurangan sekitar 4.000 posisi menjadi bagian dari rencana efisiensi JLR untuk menghadapi tekanan yang semakin besar terhadap industri otomotif.
JLR menargetkan penghematan sebesar 1,7 miliar poundsterling atau sekitar Rp37 triliun dalam dua tahun mendatang. Langkah tersebut dilakukan ketika perusahaan menghadapi tekanan dari berbagai arah, termasuk kenaikan tarif perdagangan dan persaingan dengan produsen kendaraan asal China.
Baca juga: JLR siapkan desain interior tanpa tombol fisik
Selain itu, perubahan permintaan konsumen terhadap kendaraan listrik turut memberikan tekanan terhadap bisnis JLR.
Program pengurangan tenaga kerja tersebut diharapkan dapat membantu perusahaan menyesuaikan struktur biaya dengan kondisi pasar yang berubah. JLR juga berupaya menurunkan titik impas produksi menjadi sekitar 300.000 kendaraan.
Langkah efisiensi itu tidak berarti JLR menghentikan pengembangan produk. Perusahaan tetap berencana meluncurkan sejumlah kendaraan baru dalam periode mendatang sebagai bagian dari upaya memperkuat kembali bisnisnya.
JLR juga tetap menyiapkan investasi besar untuk pengembangan kendaraan dan teknologi. Perusahaan mengalokasikan dana untuk elektrifikasi, teknologi digital, manufaktur, serta peningkatan pengalaman pelanggan.
Motor1 melaporkan JLR menghadapi tantangan dalam mempertahankan tingkat permintaan di tengah perubahan industri otomotif global. Persaingan dari produsen China semakin kuat, sementara produsen otomotif tradisional juga harus menyesuaikan investasi dan strategi produknya dengan perkembangan kendaraan listrik.
Melalui program pengurangan tenaga kerja secara sukarela tersebut, JLR berupaya menekan biaya operasional tanpa melakukan pemutusan hubungan kerja secara langsung terhadap seluruh posisi yang ditargetkan.
Perusahaan berharap efisiensi tersebut dapat memperbaiki struktur biaya dan memberikan ruang untuk mempertahankan investasi pada produk serta teknologi yang akan menjadi bagian penting dari strategi bisnis JLR ke depan.
Baca juga: Jaguar Land Rover tarik 7 ribu kendaraan karena cacat produksi
Baca juga: Berhenti produksi, Jaguar obral diskon mobil mewah
Baca juga: Freelander 8 bukukan lebih dari 10.000 pesanan awal dalam 48 jam
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026