Jakarta (ANTARA) - DFSK setelah beberapa tahun berada di bawah bayang-bayang persaingan industri otomotif yang semakin ketat, kini berupaya membangun kembali eksistensinya di Indonesia melalui peluncuran DFSK E5 Plus pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026.
Hadirnya model ini bukan sekadar produk baru, melainkan telah menjadi simbol transformasi bagi DFSK dalam mengarungi industri otomotif di era kendaraan elektrifikasi.
Head of Sales & Marketing PT Sokonindo Automobile, Doni Putra Okten mengatakan bahwa model yang dibawa ke Indonesia ini merupakan model yang cukup mewah dan berbeda dengan model E5 Plus yang ada negara tujuan DFSK seperti Amerika Latin maupun yang ada di China itu sendiri.
“Indonesia merupakan negara yang cukup penting bagi DFSK, jadi kendaraan yang kita sajikan ini model E5 Plus yang sangat mewah dan tidak bisa ditemukan di negara-negara lain,” kata Doni Putra Okten di ICE BSD, Tangerang, Selasa (4/8).
Baca juga: Sebanyak 1.100 unit DFSK E5 Plus dipesan pada masa pemesanan awal
DFSK bukan nama baru di pasar otomotif nasional. Pabrikan yang berada di bawah PT Sokonindo Automobile tersebut telah hadir melalui berbagai model kendaraan penumpang dan niaga.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, persaingan dari merek-merek baru, terutama asal China, membuat DFSK harus menghadirkan strategi yang lebih agresif melalui teknologi kendaraan ramah lingkungan dari E5 Plus.
Segmen SUV plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) ini, hadir dengan kerja sama antara mesin bensin 1.5 liter dengan motor listrik. Kombinasi keduanya menghasilkan tenaga sekitar 215 hp dengan torsi puncak 330 Nm, yang diklaim mampu membawa mobil berakselerasi dari 0-100 km/jam dalam kisaran delapan detik.
Sebagai kendaraan PHEV, E5 Plus dibekali baterai berkapasitas 25 kWh. Dalam kondisi baterai penuh, mobil ini diklaim mampu melaju hingga 140 kilometer menggunakan tenaga listrik murni.
Sementara ketika sistem hybrid bekerja secara optimal, jarak tempuh gabungannya mencapai 1.400 kilometer berdasarkan standar pengujian NEDC.
Angka tersebut menjadi salah satu nilai jual utama, bagi konsumen yang menginginkan efisiensi tanpa khawatir terhadap keterbatasan infrastruktur pengisian daya.
“Sistem Battery Management System (BMS) kami juga dirancang untuk menjaga kesehatan baterai dalam jangka panjang dengan mengoptimalkan proses pengisian, penggunaan, hingga perlindungan terhadap berbagai kondisi operasional, sehingga konsumen dapat memiliki rasa aman dan percaya diri dalam setiap perjalanan," ujar Product Expert PT Sokonindo Automobile, Ichsan Aria Putra.
Baca juga: DFSK buka prapemesanan PHEV pertamanya di Indonesia
Selain mengedepankan tingkat efisiensi yang cukup baik, E5 Plus juga dirancang sebagai SUV yang cocok digunakan oleh konsumen yang sudah memiliki keluarga.
Mobil ini menawarkan konfigurasi tiga baris dengan kapasitas hingga tujuh penumpang, kabin yang lapang, layar infotainment berukuran besar, panoramic sunroof, serta teknologi Advanced Driver Assistance System (ADAS) Level 2 yang mencakup berbagai fitur keselamatan aktif untuk membantu pengemudi.
Dari sisi harga, DFSK memasarkan E5 Plus pada kisaran Rp500 juta hingga Rp550 juta (OTR) di Indonesia. Rentang harga tersebut menempatkannya di segmen SUV elektrifikasi menengah yang akan bersaing dengan sejumlah model hybrid dan plug-in hybrid lain di pasar nasional.
Menariknya, sebelum peluncuran resmi di GIIAS 2026, DFSK telah mengantongi lebih dari 1.100 surat pemesanan kendaraan (SPK), menunjukkan adanya antusiasme awal dari konsumen.
Bagi DFSK, E5 Plus bukan hanya produk baru, tetapi juga momentum untuk membangun kembali kepercayaan pasar di tengah maraknya tren elektrifikasi yang semakin berkembang.
DFSK berupaya mengubah citranya dari sekadar menawarkan kendaraan dengan harga kompetitif menjadi produsen yang mampu menghadirkan teknologi modern, efisiensi energi, dan kenyamanan bagi keluarga Indonesia.
Baca juga: DFSK pilih fokus PHEV karena infrastruktur EV belum merata
Baca juga: DFSK optimis Indonesia jadi motor pertumbuhan industri otomotif
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026