Jakarta (ANTARA) - Studi terbaru International Council on Clean Transportation (ICCT) menunjukkan transisi menuju kendaraan nol emisi berpotensi menekan angka kematian dini akibat polusi udara dari sektor transportasi darat.

Dalam studi berjudul "Health Benefits of Zero-Emission Vehicles Through 2050", ICCT menyebut emisi transportasi darat di Indonesia menyebabkan sekitar 44.700 kematian dini dan 19.800 kasus baru asma pada anak setiap tahun.

Angka tersebut setara dengan satu kematian dini setiap 12 menit dan satu kasus baru asma anak setiap 26 menit.

"Transportasi darat di Indonesia berkontribusi terhadap sekitar 44.700 kematian dini setiap tahun dan sekitar 19.800 kasus baru asma pada anak setiap tahun. Jika disederhanakan, kurang lebih satu kematian setiap 12 menit," kata Senior Researcher ICCT Aditya Mahalana dalam pemaparan studi di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Upaya yang bisa ditempuh Jakarta menuju emisi nol karbon

Laporan tersebut merupakan bagian dari studi global yang mencakup lebih dari 180 negara dan wilayah serta lebih dari 13.000 kawasan perkotaan.

Secara global, transportasi darat menyumbang hampir setengah dari batas tahunan paparan partikel halus udara luar ruang yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sehingga menjadi salah satu sektor penting dalam upaya pengendalian polusi udara.

ICCT menilai kontribusi polusi tidak berasal secara merata dari seluruh jenis kendaraan. Kendaraan berat, meski hanya sekitar 2 persen dari armada transportasi darat Indonesia, menyumbang lebih dari separuh emisi nitrogen oksida (NOₓ) dan PM2.5. Sementara itu, kendaraan ringan mendominasi emisi senyawa organik volatil (VOC) dan karbon monoksida (CO).

Baca juga: ICCT luncurkan peta jalan Indonesia menuju nol emisi

"Dengan elektrifikasi kendaraan yang ambisius, pada 2050 kasus asma pada anak dapat berkurang sekitar 150.000 dan kematian dini sekitar 800.000 di Indonesia, serta lebih dari 8 juta secara global," kata peneliti ICCT Lingzhi Jin.

Riset tersebut juga menunjukkan polusi transportasi darat berpotensi memperlebar ketimpangan kesehatan global. Negara berpendapatan tinggi diproyeksikan mengalami penurunan sekitar 48 persen kematian dini terkait transportasi darat hingga 2050 berdasarkan kebijakan saat ini, sedangkan negara berpendapatan menengah atas diperkirakan mengalami kenaikan lebih dari 50 persen dan negara berpendapatan rendah serta menengah bawah lebih dari 200 persen.

ICCT menggunakan dua skenario dalam kajiannya. Skenario "Baseline 2025" mengasumsikan kondisi berjalan sesuai kebijakan yang telah diterapkan tanpa langkah tambahan seperti pengetatan standar emisi, elektrifikasi, atau peningkatan kualitas bahan bakar. Adapun skenario "Ambitious Electrification" mengasumsikan elektrifikasi kendaraan darat mendekati 100 persen sebelum 2050.

Baca juga: Implementasi kontrol injeksi bahan bakar alternatif bisa kurangi emisi

Dalam skenario "Baseline 2025", jumlah kematian dini diproyeksikan meningkat di negara berpendapatan menengah dan rendah. Sebaliknya, pada skenario elektrifikasi ambisius, hampir seluruh penjualan kendaraan baru bebas emisi pada 2045 sehingga seluruh kelompok negara diproyeksikan mengalami penurunan signifikan beban kesehatan akibat transportasi darat hingga 2050.

Direktur Senior ICCT sekaligus salah satu penulis studi, Josh Miller, mengatakan pertumbuhan populasi, penuaan penduduk, dan bertambahnya jumlah kendaraan akan terus meningkatkan beban kesehatan akibat transportasi darat jika kebijakan saat ini tidak berubah.

Baca juga: Tak hanya genjot EV, pemerintah kembangkan biodiesel dan bioetanol

"Kajian ini menunjukkan elektrifikasi yang ambisius cukup kuat untuk memutus keterkaitan tersebut dan mencegah hampir 9 juta kematian dini antara sekarang hingga 2050," kata Josh Miller.

ICCT menyimpulkan transisi global menuju kendaraan nol emisi merupakan salah satu kebijakan dengan dampak terbesar untuk menekan perubahan iklim sekaligus mengurangi dampak kesehatan akibat polusi udara transportasi darat.

Lembaga itu juga menilai pengetatan standar emisi, penggunaan bahan bakar yang lebih bersih, program peremajaan armada, retrofit kendaraan, dan penerapan zona rendah emisi dapat memberikan manfaat kesehatan jangka pendek sambil mempercepat manfaat elektrifikasi.
Baca juga: PLN dan mitra konversi motor listrik dukung emisi nol bersih 2060

Pewarta:
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026