Amerika Serikat (ANTARA) - Tujuh puluh tahun lalu, hubungan historis Mercedes dengan Nazi Jerman sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan sebagian masyarakat Amerika Serikat (AS), dan kini, yang menjadi sorotan adalah kaitannya dengan China.

Laman Carscoops, Kamis (23/7) waktu setempat melaporkan, sebuah usulan baru di Senat AS yang dirancang untuk mencegah perusahaan otomotif yang memiliki hubungan dengan China beroperasi di pasar AS secara tidak sengaja juga menempatkan Mercedes dalam posisi yang terdampak. Namun, seorang anggota parlemen terkemuka berjanji akan melindungi produsen mobil asal Jerman tersebut.

Kemungkinan Mercedes dilarang beroperasi di AS muncul setelah Komite Perdagangan Senat meloloskan rancangan undang-undang yang akan membatasi produsen mobil dengan kepemilikan China di atas ambang batas tertentu.

Hal yang mengejutkan, Mercedes memiliki dua investor besar asal China dengan total kepemilikan saham hampir mencapai 20 persen.

Baca juga: Produsen mobil China jajaki skema leasing lintas negara

Berdasarkan isi rancangan undang-undang saat ini, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan masalah bagi Mercedes. Dua investor asal China tersebut adalah BAIC, perusahaan otomotif milik negara China, serta pendiri Geely, Li Shufu. Jika digabungkan, kepemilikan saham keduanya melampaui batas kepemilikan 15 persen yang sedang dipertimbangkan oleh para anggota parlemen AS.

Namun, sebelum para diler Mercedes mulai mengosongkan ruang pamer mereka, sejumlah anggota parlemen utama telah memberi sinyal bahwa pelarangan total bukanlah tujuan dari rancangan aturan tersebut.

Senator Ted Cruz dilaporkan mengakui adanya persoalan itu dalam pembahasan di komite dengan mengatakan, bahwa mereka tidak akan pernah mempertimbangkan untuk melarang Mercedes-Benz.

Senator Bernie Moreno juga menyatakan bahwa Mercedes memiliki waktu hingga 2030 untuk menyelesaikan persoalan kepemilikan saham tersebut dan berpotensi mengajukan pengecualian. Artinya, masih ada waktu yang cukup panjang sebelum ada yang mulai merobohkan diler Daimler untuk diganti menjadi kompleks apartemen.

Baca juga: Eks bos Stellantis prediksi China akan kuasai industri otomotif dunia

Perangkat lunak China dilarang

Peristiwa ini menunjukkan seberapa agresif AS berupaya mengurangi ketergantungannya terhadap China di sektor otomotif. Aturan mengenai perangkat lunak asal China yang diterapkan pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden telah memaksa Polestar—yang mayoritas sahamnya dimiliki Geely dari China—keluar dari pasar AS pada tahun ini.

Aturan mengenai kendaraan terhubung (connected car) melarang penggunaan perangkat lunak konektivitas asal China pada kendaraan model tahun 2027, serta perangkat keras (hardware) asal China pada model tahun 2030, dengan alasan kekhawatiran terhadap keamanan nasional terkait data kendaraan dan sistem komunikasinya.

Industri otomotif kini berlomba-lomba menyesuaikan diri. Para pemasok berupaya mengganti komponen konektivitas buatan China, produsen mobil melakukan audit terhadap rantai pasokan mereka, dan sejumlah perusahaan telah mengajukan permohonan pengecualian. Namun, menurut para eksekutif industri, beralih dari perangkat keras asal China juga dapat meningkatkan biaya produksi hingga 15 persen.

Baca juga: Indonesia berpeluang jadi raksasa baterai dunia lewat hilirisasi nikel

Baca juga: Strategi China bersaing di industri otomotif dunia

Pewarta:
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026