Jakarta (ANTARA) - Mobil listrik pertama Ferrari memicu perdebatan di kalangan penggemar di berbagai belahan dunia, banyak yang mencibirnya, tetapi para pembeli kaya di China tampaknya tidak terlalu mempermasalahkannya.

Terlepas dari perdebatan panjang di internet mengenai desain Luce yang dianggap tidak biasa serta absennya mesin konvensional, Ferrari tampaknya mendapat sambutan hangat di pasar terbesar keduanya, berdasarkan laporan penjualan terbaru.

Laman Carscoops, Senin (29/6) waktu setempat, melaporkan bahwa kuota 88 unit yang dialokasikan untuk pasar China pada tahun ini disebut langsung habis terjual tak lama setelah Luce diluncurkan dengan harga 3,988 juta yuan, atau sekitar Rp10,5 miliar. Kabar tersebut menjadi sorotan karena bertolak belakang dengan beragam reaksi yang diterima mobil listrik ini di Eropa dan Amerika Utara.

Namun, kenyataannya mungkin tidak sesederhana itu. Berdasarkan laporan lanjutan dari Beijing Business Today, staf penjualan Ferrari di Beijing membantah klaim bahwa pemesanan telah dihentikan karena seluruh kuota sudah habis.

Baca juga: Mobil listrik Ferrari Luce laris di China

Sebaliknya, mereka menyatakan bahwa Luce masih dapat dipesan menjelang debutnya di Beijing yang berlangsung pada 3 hingga 5 Juli. Hal ini mengindikasikan bahwa Ferrari kemungkinan masih memiliki alokasi tambahan untuk pasar China, atau laporan sebelumnya terlalu melebih-lebihkan bahwa kuota awal tersebut benar-benar telah habis.

China merupakan pasar yang sangat penting bagi Luce. Laporan sebelumnya mengungkapkan bahwa penjualan Ferrari di negara tersebut turun dari sekitar 1.500 unit per tahun pada 2022 menjadi sekitar 900 unit pada 2025.

Sebagian penurunan tersebut disebabkan oleh tingginya pajak untuk mobil mewah bermesin pembakaran internal, serta sulitnya memperoleh pelat nomor bagi kendaraan bermesin bensin atau diesel di kota-kota besar.

Karena merupakan kendaraan listrik, Luce memberikan kemudahan dalam memperoleh pelat nomor dan juga dibebaskan dari pajak konsumsi sebesar 40 persen yang berlaku di China.

Bahkan, dengan harga sekitar 586.600 dolar AS, Luce dijual sekitar 53.000 dolar AS (Rp953,7 juta) lebih murah di China dibandingkan di Amerika Serikat.

Meski demikian, harganya tetap tergolong mahal jika dibandingkan dengan mobil listrik buatan China yang lebih terjangkau, di mana beberapa di antaranya bahkan menawarkan performa yang lebih cepat dan tenaga yang lebih besar. Namun, Luce diposisikan sebagai grand tourer lima penumpang, bukan supercar murni.

Selain itu, Luce juga sangat mungkin menjadi model yang jauh lebih eksklusif. Ferrari tidak pernah mengungkap jumlah produksi sebuah model hingga mobil tersebut resmi dihentikan penjualannya pada akhir siklus hidupnya. Namun, para pengamat industri memperkirakan Ferrari akan memproduksi kurang dari 1.000 unit Luce setiap tahun, bahkan kemungkinan kurang dari 800 unit per tahun.

Baca juga: Ferrari siapkan Luce EV untuk uji tabrak Euro NCAP

Baca juga: Ferrari Luce bakal jadi mobil listrik termahal yang ada di Australia

Baca juga: Mobil listrik Ferrari Luce 2027 akhirnya diungkap

Pewarta:
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026