Jakarta (ANTARA) - Toyota masih kokoh mempertahankan posisinya sebagai produsen mobil terbesar di dunia, namun, selama empat bulan berturut-turut penjualan Toyota terus mengalami penurunan, terutama akibat melemahnya pasar di Asia, termasuk China, serta kawasan Oseania dan Timur Tengah.
Laman Carscoops, Selasa (30/6) waktu setempat, melaporkan bahwa pada Mei, Toyota menjual total 834.729 kendaraan di seluruh dunia, turun 7,2 persen dibandingkan Mei 2025. Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan penjualan pada April yang mencapai 849.306 unit dan Maret yang sebanyak 897.871 unit.
Jika anak perusahaan Daihatsu turut dihitung, total penjualan global turun lebih dalam, yakni 7,4 persen menjadi 885.207 unit. Sementara itu, produksi kendaraan juga turun 5,8 persen menjadi 857.765 unit.
Penurunan ini turut memengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Toyota kini memperkirakan laba operasional sebesar 3 triliun yen (Rp330,7 triliun) hingga Maret 2027. Proyeksi tersebut lebih rendah dari perkiraan analis maupun capaian tahun lalu yang mencapai 3,8 triliun yen (Rp418,9 triliun).
Baca juga: Penjualan Toyota anjlok di kawasan Timur Tengah
Di Amerika Utara, penjualan pada Mei relatif stabil dengan penurunan tipis 0,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 280.539 unit. Meski demikian, angka itu lebih tinggi dibandingkan penjualan April yang mencapai 261.979 unit.
Khusus di Amerika Serikat, penjualan turun sedikit lebih besar, yakni 0,6 persen menjadi 238.800 unit pada Mei. Toyota menyebut salah satu penyebabnya adalah proses transisi menuju generasi terbaru RAV4, meskipun permintaan terhadap mobil hybrid dan kendaraan listrik (EV) terus meningkat.
Hal serupa terjadi di Eropa. Penjualan pada Mei relatif stabil dengan penurunan hanya 0,3 persen menjadi 99.597 unit.
Di kawasan Asia, penjualan Toyota turun 17,2 persen pada Mei menjadi 224.366 kendaraan. Penyebab utamanya berasal dari China. Penjualan di China anjlok 31,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 102.299 unit.
Toyota menggambarkan kondisi tersebut sebagai "lingkungan pasar yang menantang" dan menunjuk tingginya harga bensin yang masih bertahan di negara tersebut sebagai salah satu penyebabnya.
Dampaknya tidak hanya terjadi dalam satu bulan. Hingga Mei, Toyota telah menjual 579.419 kendaraan di China, atau turun 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca juga: Toyota bukukan rekor penjualan global pada tahun fiskal 2025
Di negara Asia lainnya, penjualan di Filipina turun 13,4 persen, Malaysia turun 18,2 persen, dan Pakistan merosot 24,7 persen.
Bisnis global Toyota juga terdampak kondisi di Timur Tengah, sebagian akibat perang di Iran. Penjualan di kawasan tersebut turun 38,6 persen pada Mei menjadi 29.568 unit.
Meski volume penjualannya tidak sebesar kawasan lain, Timur Tengah memiliki kontribusi penting bagi Toyota. Chief Accounting Officer Toyota, Takanori Azuma, mengatakan perusahaan setiap tahun mengirim 500.000 hingga 600.000 kendaraan ke Timur Tengah dan memperkirakan sedikit di bawah setengah dari jumlah tersebut akan terdampak.
Oseania juga mengalami tren serupa. Penjualan turun 26 persen menjadi 21.061 kendaraan, meskipun angka tersebut masih sedikit lebih tinggi dibandingkan April yang mencapai 19.651 unit.
Berbeda dengan pasar lainnya, permintaan di pasar domestik Toyota di Jepang justru tetap kuat. Penjualan di Jepang naik 11,1 persen pada Mei dibandingkan 118.381 unit pada periode yang sama tahun lalu, menjadikannya salah satu dari sedikit pasar utama yang masih mencatatkan pertumbuhan.
Meski mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu, penjualan pada Mei tetap jauh lebih rendah dibandingkan April, ketika Toyota menjual 149.924 kendaraan baru di pasar domestiknya.
Baca juga: Daftar merek mobil terlaris sepanjang Q1 2026, Tiongkok mulai menyalip
Baca juga: Toyota capai 2.793 SPK saat IIMS 2026 dengan hybrid dominasi penjualan
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026