Jakarta (ANTARA) - Ni Jun, pimpinan perusahaan raksasa baterai asal China, CATL, memperkirakan 10.000 hingga 20.000 kendaraan listrik akan menggunakan baterai natrium-ion buatannya pada tahun ini.
Di tengah upaya industri otomotif global menghadapi volatilitas harga litium, raksasa baterai CATL mempercepat strategi jalur gandanya yang menggabungkan teknologi “litium-natrium”.
Pekan ini, CATL juga memperkenalkan Tener Sodium, sistem penyimpanan energi baru berbasis baterai natrium-ion. Laman Carnewschina, Kamis waktu setempat melaporkan, perusahaan berencana memulai pengiriman awal di China pada September tahun ini, sementara pengiriman global dijadwalkan dimulai pada Juni 2027.
CATL telah menginvestasikan hampir 10 miliar yuan (Rp26,39 triliun) untuk penelitian baterai natrium-ion selama satu dekade terakhir, serta menambah lebih dari 300 anggota dalam tim riset dan pengembangannya.
Baca juga: CATL kantongi 2 paten baru, desain baterai EV lebih kuat saat tabrakan
Menurut Chief Technology Officer CATL, Gao Huan, inovasi tersebut telah meningkatkan kepadatan energi hingga 50 persen. Perusahaan menilai produknya kini berada pada tahap yang disebut sebagai “tahap tonggak penting” (milestone stage), dengan produksi massal dijadwalkan dimulai pada kuartal keempat tahun ini.
Salah satu keunggulan utama teknologi baru CATL adalah kemampuannya beroperasi pada suhu ekstrem.
Ni Jun menjelaskan bahwa baterai tersebut dirancang untuk tetap berfungsi normal pada suhu antara -20°C hingga -30°C. Kemampuan ini membuka peluang pasar di wilayah dengan musim dingin yang keras, seperti bagian utara Amerika Utara, Kanada, dan beberapa wilayah Jepang.
Pada Februari lalu, pengujian di dunia nyata yang dilakukan di fasilitas uji kendaraan di Yakeshi, Mongolia Dalam, menunjukkan kendaraan Changan berhasil melintasi jalan bersalju dan tanjakan curam menggunakan teknologi natrium-ion CATL.
Calvin Quek, Executive Director Nature Finance di Oxford Sustainable Finance Group, yang menyaksikan pengujian tersebut, menyebutnya sebagai “momen terobosan” bagi teknologi natrium-ion di sektor kendaraan listrik.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa Changan akan mulai menjual model kendaraan yang menggunakan teknologi ini pada pertengahan tahun.
Baca juga: Pemasok Chery mulai produksi massal baterai natrium
Mengantisipasi volatilitas harga litium
Kembalinya minat terhadap baterai natrium-ion dalam beberapa waktu terakhir sebagian besar didorong oleh fluktuasi harga litium yang sangat tajam. Data menunjukkan bahwa harga litium karbonat di China melonjak hampir 190 persen antara Juni tahun lalu hingga 20 April 2026, yang secara signifikan meningkatkan tekanan biaya bahan baku.
CATL memosisikan baterai natrium-ion sebagai alat “manajemen risiko alternatif” untuk mengantisipasi volatilitas tersebut. Karena sumber daya natrium tersedia melimpah secara global, strategi ini bertujuan meningkatkan ketahanan rantai pasok sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu jenis bahan baku yang banyak digunakan baterai EV saat ini.
CATL juga memandang 2026 sebagai tahun yang menentukan, dengan proyeksi bahwa biaya baterai natrium-ion akan menyamai biaya baterai litium-ion pada akhir tahun ini.
Baca juga: Standar baru China wajibkan baterai "tanpa kebakaran"
Baca juga: Wuling tak terburu-buru rilis harga baterai Eksion di Indonesia
Baca juga: CATL resmikan pusat uji penyimpanan energi terbesar dunia di China
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026