Jakarta (ANTARA) - Stellantis memasang purwarupa baterai solid-state pada mobil Dodge Charger Daytona bertenaga listrik yang dirancang khusus untuk melakukan pengujian dan kalibrasi penggunaan teknologi baterai pada mobil yang dikendarai di jalan raya.
Menurut siaran ArenaEV pada Jumat (12/6), Stellantis membuat kendaraan itu murni sebagai demonstrator teknologi untuk mengevaluasi bagaimana sel baterai baru bekerja dalam berbagai kondisi berkendara.
Dalam pengembangannya, Stellantis bekerja sama dengan perusahaan baterai asal Amerika Serikat, Factorial, yang mendapat dukungan investasi dari produsen otomotif besar seperti Mercedes-Benz, Hyundai, dan Kia.
Prototipe Dodge menggunakan sel solid-state khusus Factorial.
Baterai solid-state menggunakan elektrolit berbahan padat sebagai pengganti elektrolit cair atau gel yang biasa digunakan pada baterai lithium-ion saat ini.
Jenis baterai ini mampu menyimpan energi lebih besar dalam ruang yang lebih kecil dan ringan, sehingga mobil listrik bisa lebih ringan dan dapat menempuh jarak lebih jauh.
Baca juga: China akan merilis standar baterai solid-state pada Juli 2026
Menurut Factorial, sel baterai solid-state yang digunakan dalam uji coba memiliki kepadatan energi hingga 375 Wh/kg, lebih tinggi dibandingkan dengan sebagian besar baterai kendaraan listrik di pasaran saat ini.
Selain itu, baterai tersebut diklaim mampu mengisi daya dari 15 persen sampai 90 persen hanya dalam waktu 18 menit.
Baterai itu juga diklaim menunjukkan ketahanan pada suhu ekstrem, mulai dari minus 30 derajat Celsius hingga 45 derajat Celsius, tanpa mengalami penurunan performa signifikan.
Stellantis belum mengungkap kapasitas total baterai yang digunakan dalam uji coba maupun jarak tempuh purwarupa Dodge Charger Daytona yang dipasangi baterai solid-state.
Baca juga: Dodge Charger Daytona dengan baterai solid-state diuji tahun 2026
Paket baterai solid-state Factorial tahun lalu juga diuji menggunakan purwarupa kendaraan Mercedes-Benz EQS yang dimodifikasi.
Dalam pengujian, sedan listrik itu mampu menempuh jarak hingga 1.205 kilometer dalam satu kali pengisian daya baterai. Jarak itu biasanya membutuhkan setidaknya dua kali pengisian daya pada mobil listrik modern konvensional.
Saat pengujian berakhir, mobil itu bahkan masih memiliki sisa daya yang diestimasi dapat digunakan untuk menempuh jarak sekitar 137 kilometer.
Stellantis melakukan pengujian dengan tujuan utama untuk mengetahui apakah teknologi baterai solid-state pada akhirnya dapat menggantikan baterai standar seperti lithium iron phosphate (LFP) dan nickel manganese cobalt (NMC) yang saat ini banyak digunakan pada kendaraan listrik.
Selain menjanjikan jarak tempuh lebih jauh, baterai solid-state menawarkan masa pakai lebih panjang, tingkat keamanan lebih baik, dan waktu pengisian daya lebih singkat.
Baca juga: Opel siapkan empat model terbaru untuk mobilitas masa depan
Baca juga: Stellantis kucurkan Rp21 triliun untuk produksi Peugeot di Mulhouse
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026