Jakarta (ANTARA) - Honda baru saja membatalkan tiga kendaraan listrik (EV) yang sedianya akan meluncur di Amerika Utara setelah perusahaan membukukan kerugian sekitar 15,7 miliar dolar AS (Rp282,4 triliun) akibat komitmen berlebihan terhadap EV.
Beberapa minggu kemudian, Chief Executive Toshihiro Mibe diminta mengundurkan diri, tetapi ia menolak.
Laman Carscoops, Rabu (10/6) waktu setempat melaporkan, mulai akhir 2025, beberapa mantan eksekutif Honda yang telah pensiun mulai mengadakan pertemuan untuk membahas berbagai masalah yang sedang dihadapi pabrikan Jepang tersebut.
Baca juga: CEO Honda, Takahiro Hachigo akan mundur dari jabatan
Selama beberapa bulan, mereka menyalahkan Mibe dan secara khusus mempermasalahkan pengabaiannya terhadap China serta tanggung jawabnya atas kesalahan strategi EV yang menyebabkan kerugian yang besar.
Mereka bahkan menyatakan bahwa Mibe lebih fokus pada sponsorship golf Honda dibandingkan bisnis perusahaan. Pada April, mantan chief executive Honda berusia 90 tahun, Nobuhiko Kawamoto, mengunjungi kantor pusat Honda dan meminta Mibe untuk mengundurkan diri. Mibe mengatakan hal itu tidak akan terjadi.
Mibe telah menjabat sebagai chief executive Honda sejak 2021 dan menerima pemotongan gaji sebesar 30 persen selama tiga bulan sebagai respons atas kerugian tahunan pertama yang dicatat merek tersebut dalam 70 tahun.
Baca juga: CEO Honda yakin mesin bakar konvensional bisa bertahan sampai 2040
Menurut pihak-pihak yang berusaha menyingkirkannya, Mibe tidak memberikan perhatian pada “genba” sebagaimana para pendahulunya, yaitu “tempat sebenarnya” di mana pekerjaan penting dilakukan, seperti pabrik dan ruang pamer.
“CEO tidak melihat kondisi di lapangan atau mendengarkan pelanggan, dan tidak pergi ke genba. Manajemen senior, termasuk CEO, tidak mengunjungi genba, contohnya China," kata mereka.
Meskipun para mantan eksekutif menginginkan Mibe disingkirkan, ia mendapat dukungan dari komite nominasi dewan direksi. Komite ini dibentuk dengan lebih banyak direktur independen sebagai bagian dari perubahan yang lebih luas di Jepang untuk meningkatkan tata kelola perusahaan dan mengurangi pengaruh para eksekutif yang telah pensiun.
Baca juga: Nissan tunjuk CEO baru usai merger dengan Honda gagal
Honda dengan cepat mengubah rencananya setelah pembatalan proyek-proyek EV tersebut. Pada Mei, terungkap bahwa produsen otomotif itu sedang mengembangkan platform kendaraan listrik generasi baru yang juga akan mendukung sistem penggerak hybrid.
Perusahaan mengakui bahwa pasar EV di Amerika Serikat dapat berubah secara drastis setelah masa jabatan kedua Trump berakhir pada Januari 2029. Hasil pemilu sela pada November tahun ini juga dapat memberikan dampak besar terhadap pasar.
Di bawah strategi baru ini, Honda berencana meluncurkan 15 model hybrid baru pada 2029. Dua di antaranya baru-baru ini telah diperkenalkan dalam bentuk pratinjau: yang pertama dikenal sebagai Honda Hybrid Sedan Prototype, dan yang kedua adalah SUV bergaya ramping dengan lencana Acura Hybrid SUV Prototype.
Baca juga: Toshihiro Mibe ditunjuk sebagai President Honda yang baru
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026