China (ANTARA) - Guangzhou Automobile Group, raksasa asal Tiongkok yang lebih dikenal dengan nama GAC, mulai merambah dari industri otomotif ke sektor penerbangan, dengan dimulainya produksi pesawat electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) miliknya sendiri yang bernama AirCab.

Laman Carscoops, Rabu waktu setempat melaporkan, eVTOL juga dikembangkan di bawah merek mobilitas Govy, produksinya dibatasi sekitar 100 unit per tahun.

AirCab telah memperoleh seluruh sertifikasi yang diperlukan untuk beroperasi secara komersial dan juga telah berhasil melewati program uji tabrak penuh. Dengan demikian, AirCab merupakan produk yang sudah siap digunakan, bukan sekadar konsep atau prototipe.

Baca juga: Mewujudkan impian naik taksi terbang di Guangzhou

Badannya menggunakan material komposit serat karbon yang ringan, dan terdapat enam lengan yang memanjang dari kabin, masing-masing membawa sepasang baling-baling untuk menghasilkan daya angkat.

Detail teknis pesawat ini masih terbatas. Namun, GAC sebelumnya menyatakan bahwa AirCab dilengkapi baterai silinder berdensitas tinggi yang hanya memerlukan 25 menit untuk terisi penuh.

Belum ada informasi mengenai jarak tempuhnya, tetapi jangkauannya diperkirakan akan terbatas.

Baca juga: Dua mobil terbang Xpeng dilaporkan jatuh saat latihan di China

Sementara sejumlah perusahaan secara agresif mengembangkan eVTOL untuk membuka era baru mobilitas massal, GAC memiliki ambisi yang lebih kecil untuk AirCab.

Untuk saat ini, perusahaan memperkirakan pesawat tersebut akan digunakan oleh operator pariwisata yang menawarkan layanan wisata udara.

Tahun lalu, GAC menyelesaikan beberapa penerbangan demonstrasi di Kawasan Teluk Besar Guangdong-Hong Kong-Makau, yang memberikan gambaran mengenai penggunaan utama tersebut.

Baca juga: Startup Hyundai hentikan pengembangan taksi terbang setelah CEO mundur

Tidak memerlukan pilot

Selain menggunakan tenaga listrik, AirCab juga mendukung fitur penerbangan otonom Level 4. Artinya, kendaraan udara ini dapat terbang dan berjelajah dengan sendirinya tanpa memerlukan awak atau pilot.

Seperti yang dapat diduga dari kendaraan yang dapat terbang sendiri, AirCab tidaklah murah. Harganya dimulai dari 1,68 juta yuan, atau sekitar Rp4,5 miliar.

Dengan harga setinggi itu, operator pariwisata yang membelinya kemungkinan akan mengenakan tarif yang sangat mahal bahkan untuk penerbangan jarak pendek.

Baca juga: Taksi terbang EHang 216-s kantongi izin bawa penumpang di Jakarta

Baca juga: "Taksi Terbang" siap revolusi perjalanan komuter di wilayah perkotaan

Pewarta:
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026