Jakarta (ANTARA) - Perusahaan otomotif asal Jepang, Toyota dikabarkan masih melanjutkan pengembangan teknologi transmisi manual untuk mobil listrik.

Teknologi ini dirancang menghadirkan sensasi berkendara layaknya mobil bermesin pembakaran internal (ICE) dengan transmisi manual.

Berdasarkan dokumen paten yang dikutip Drive pada Senin waktu setempat, sistem tersebut menghadirkan pedal kopling dan tuas persneling berbentuk pola H (H-pattern) pada kendaraan listrik.

Teknologi itu bahkan memungkinkan mobil mengalami kondisi "mati mesin" atau mogok apabila pengemudi melakukan perpindahan gigi yang tidak sesuai dengan kondisi berkendara.

Baca juga: Penjualan Toyota anjlok di kawasan Timur Tengah

Sistem bekerja melalui kalkulator putaran mesin virtual yang menghitung apakah rasio gigi dan putaran mesin sesuai dengan kecepatan kendaraan.

Jika tidak sesuai, komputer kendaraan akan memutus torsi motor listrik sekaligus mengaktifkan rem sehingga meniru efek mesin mati pada mobil manual konvensional.

Selain itu, paten tersebut menunjukkan bahwa Toyota juga berupaya meniru karakteristik lain dari mobil manual, seperti hentakan ketika menggunakan gigi yang tidak tepat pada putaran rendah hingga kemampuan kendaraan untuk mundur saat berhenti di tanjakan jika pengemudi tidak mengoperasikan kopling dengan benar.

Pengembangan teknologi ini sebenarnya telah berlangsung selama beberapa tahun.

Toyota pertama kali memperkenalkan purwarupa sistem tersebut pada mobil listrik Lexus UX300e pada 2022.

Saat itu, kendaraan juga dibekali berbagai pilihan suara mesin sintetis untuk semakin meningkatkan sensasi berkendara.

Namun, jalan menuju produksi massal masih menghadapi sejumlah tantangan.

Asisten Kepala Insinyur Lexus, Yasuyuki Terada sebelumnya mengungkapkan bahwa regulasi menjadi salah satu hambatan yang belum terpecahkan.

Menurut Terada, sejumlah negara seperti Jepang memiliki lisensi mengemudi khusus untuk kendaraan transmisi manual.

Baca juga: GR Yaris dapat penyegaran berkat masukan dari berbagai pihak

Kehadiran sistem yang dapat diaktifkan dan dinonaktifkan menimbulkan pertanyaan mengenai klasifikasi kendaraan serta jenis surat izin mengemudi yang harus dimiliki penggunanya.

Paten terbaru juga menunjukkan sejumlah fitur keselamatan tambahan.

Komputer kendaraan dapat menilai tingkat kemampuan pengemudi dan menyesuaikan intervensi sistem bantuan, seperti hill hold assist.

Pengemudi pemula dapat memperoleh bantuan penuh dalam berbagai situasi, sementara pengemudi berpengalaman hanya akan mendapatkan intervensi pada kondisi tertentu.

Toyota bahkan mempertimbangkan penyematan mode launch control yang memungkinkan pengemudi melakukan simulasi pelepasan kopling secara agresif untuk memperoleh akselerasi lebih cepat saat berangkat dari posisi diam.

Teknologi tersebut dikembangkan untuk mempertahankan keterlibatan pengemudi yang selama ini menjadi ciri khas mobil performa bermesin pembakaran internal, meskipun menggunakan sistem penggerak listrik.

Kendati demikian, hingga saat ini belum ada kepastian kapan atau apakah Toyota akan membawa fitur tersebut ke model produksi massal.

Baca juga: T-OPT dari Toyota ikut serta dalam pameran INAPA 2026

Baca juga: Toyota pamerkan kendaraan konsep di segmen roda tiga

Baca juga: Toyota sebut budaya otomotif Indonesia punya karakter kuat

Pewarta:
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026