Sanaa (ANTARA) - Selama bertahun-tahun, Saddam al-Sharabi selalu mengawali paginya dengan kekhawatiran yang sama, yakni solar.
Sebagai seorang sopir pengiriman di Sanaa, ibu kota Yaman, dia kerap kehilangan waktu seharian penuh hanya untuk mencari bahan bakar, terjebak dalam antrean yang mengular di sekitar stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dan memanjang hingga beberapa blok.
Setiap jam yang terbuang tanpa bekerja berarti berkurangnya penghasilan bagi keluarganya, di sebuah negara di mana kelangsungan hidup sering kali diukur dari hari ke hari.
Kini, setiap malam, dia cukup mencolokkan truk listrik buatan China miliknya ke sumber listrik dan menunggu baterainya terisi.
"Saya tidak lagi bangun dengan rasa cemas soal bahan bakar," ungkap al-Sharabi sebagaimana warta Xinhua.
"Saya tinggal mengisi daya kendaraan tersebut dan melanjutkan pekerjaan saya. Itu mengubah segalanya bagi saya."
Di seluruh Yaman, sebuah negara yang porak-poranda akibat perang saudara selama lebih dari satu dekade, runtuhnya perekonomian, dan kelangkaan bahan bakar yang kronis, kendaraan listrik buatan China justru menemukan pijakan yang tak terduga. Kendaraan-kendaraan tersebut diterima bukan sebagai simbol kemajuan lingkungan, melainkan sebagai alat yang dibutuhkan.
Para sopir pengiriman barang, petani, pedagang, dan pemilik usaha kecil mulai beralih ke truk dan pikap listrik karena kendaraan tersebut menawarkan sesuatu yang kian langka di Yaman, yaitu kepastian.
Pasokan bahan bakar bisa lenyap dalam semalam. Harga melonjak tanpa peringatan. Meski pasokan listrik tidak dapat diandalkan, tetapi bagi banyak warga Yaman, mengisi daya kendaraan di rumah menggunakan panel surya atau sumber listrik di lingkungan sekitar kini menjadi lebih mudah daripada mencari solar.
Terlebih lagi, meningkatnya popularitas kendaraan ini turut ditopang oleh produk ekspor China lainnya yang menyebar dengan cepat di seluruh Yaman selama perang, yaitu sistem energi surya.
Seiring dengan memburuknya jaringan listrik negara tersebut, rumah tangga dan pelaku bisnis semakin banyak yang beralih ke panel surya dan baterai buatan China, sehingga membangun fondasi kepercayaan yang dengan cepat dimanfaatkan oleh para dealer kendaraan listrik.
Yaman hingga kini masih terbagi antara utara dan selatan, kelompok Houthi mengendalikan Sanaa dan sebagian besar wilayah utara, sementara pemerintah yang diakui secara internasional beserta para sekutunya menguasai wilayah selatan.
Kendati demikian, barang-barang kebutuhan pokok terus mengalir melintasi wilayah yang terpisah tersebut, biasanya masuk melalui Aden, pelabuhan utama di Yaman selatan. Truk-truk listrik dan panel surya kini menjadi salah satu barang impor yang paling diminati.
"Warga Yaman sudah mempercayai produk-produk China karena produknya terbukti sangat sukses di sektor energi surya," ujar Ali Abdullah al-Ghabri, direktur utama Al-Raabi Autocars, sebuah dealer di Sanaa yang memiliki koleksi pikap dan truk komersial listrik di showroom-nya.
Menurut Ali, kendaraan-kendaraan China menawarkan harga yang relatif terjangkau serta biaya operasional yang cukup rendah sehingga menjadi faktor penting dalam kondisi ekonomi di mana bantuan sangat langka.
Bagi Abdul Fattah al-Hammadi, seorang pengusaha yang baru-baru ini membeli pikap listrik buatan China, perhitungannya sangatlah sederhana.
"Terkadang bahan bakar hilang begitu saja, dan kadang-kadang harganya tiba-tiba melonjak di luar jangkauan kemampuan masyarakat umum," sebutnya. "Kini saya mengisinya kembali daya kendaraan ini semudah mengisi baterai ponsel."
Di dalam bengkel otomotif Al-Raabi, para teknisi Yaman mendiagnosis masalah kendaraan menggunakan sistem digital dan, jika diperlukan, melakukan konsultasi jarak jauh dengan para insinyur di China. Munther al-Farran, seorang teknisi di bengkel tersebut, menyebutkan bahwa kerja sama ini secara perlahan turut membangun keahlian teknis di sebuah negara yang sebagian besar tenaga kerja terampilnya telah berkurang drastis akibat perang.
Para pejabat pemerintah pun mulai memberikan perhatian. Pekan lalu, Mohammed al-Ashwal, menteri perindustrian dalam pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional, yang kini berbasis di Aden, menyebut pembukaan showroom BYD terbesar di kota pelabuhan di Yaman selatan tersebut sebagai tanda pulihnya kepercayaan investor sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya peran komersial Aden.
Kendati demikian, para ekonom tetap bersikap hati-hati, dengan memperingatkan bahwa peralihan ini akan bergantung pada kemampuan pasokan listrik dan infrastruktur pengisian daya Yaman yang rapuh untuk mengimbangi permintaan. Namun, sejumlah pihak menilai bahwa persepsi terhadap kendaraan listrik kini sudah mulai berubah.
"Di Yaman saat ini, kendaraan listrik tidak lagi dipandang sebagai produk mewah," kata Khaled al-Sanab, seorang ekonom di Sanaa. "Bagi banyak orang, kendaraan tersebut kini menjadi kebutuhan ekonomi."
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026