Jakarta (ANTARA) - Tesla telah mengubah nama perangkat lunak bantuan pengemudi miliknya di China dari Full Self-Driving (FSD) menjadi Tesla Assisted Driving menurut warta Arena EV berdasarkan situs web resmi perusahaan di China.
Arena EV dalam siarannya pada Minggu (24/5) menyebut perubahan nama itu sebagai bagian dari langkah perusahaan dalam menyesuaikan diri dengan regulasi ketat pemerintah China mengenai klaim teknologi kendaraan otonom.
Tesla selama bertahun-tahun menghadapi kritik karena terlalu menjanjikan kemampuan perangkat lunaknya, tetapi gagal memberikan kemampuan mengemudi otonom yang sebenarnya.
Tidak seperti di pasar luar negeri, di mana produsen sekarang hanya menawarkan model berlangganan bulanan, pelanggan di China masih memiliki pilihan untuk membeli perangkat lunak secara langsung.
Konsumen di China saat ini dapat membeli paket lengkap Tesla Assisted Driving dengan harga RMB 64.000 atau sekira Rp166,7 juta.
Perusahaan menyatakan bahwa paket tersebut mencakup setiap fitur dasar dan lanjutan yang tersedia.
Deskripsi di situs resmi perusahaan menjanjikan pembaruan pada masa mendatang akan memungkinkan kendaraan menangani sebagian besar tugas mengemudi kompleks dengan input manusia minimal.
Baca juga: Megafactory Tesla di China kirim 2.000 unit baterai megapack pada 2025
Berdasarkan standar industri global, sistem bantuan pengemudi milik Tesla saat ini diklasifikasikan sebagai teknologi Level 2, artinya pengemudi manusia harus tetap waspada penuh, menjaga tangan di dekat kemudi, dan bertanggung jawab atas mobil setiap saat.
Menyebut sistem Level 2 sebagai "Full Self-Driving" (Mengemudi Otomatis Penuh) menimbulkan banyak kebingungan di antara para pengguna awal kendaraan listrik Tesla.
Regulator China mempertahankan pengawasan yang ketat dan tanpa kompromi terkait keselamatan kendaraan dan klaim pemasaran perusahaan.
Tesla awal tahun lalu telah mengubah label asli perangkat lunaknya dari "FSD Intelligent Assisted Driving" menjadi hanya "Intelligent Assisted Driving." Kini namanya diubah lagi menjadi Tesla Assisted Driving.
Menghilangkan kata "Intelligent" dan menambahkan "Tesla" menunjukkan bahwa produsen mobil asal Amerika Serikat itu masih berusaha menemukan jalan tengah yang aman dengan otoritas pemerintah setempat.
Tesla menghadapi persaingan ketat dengan produsen kendaraan China seperti Huawei, XPeng, dan Xiaomi, yang kini menawarkan teknologi bantuan berkendara canggih sebagai fitur standar pada kendaraan listrik mereka.
Hambatan-hambatan yang dihadapi perusahaan berdampak pada penjualan kendaraan Tesla di China. Sebagai gambaran, angka penjualan ritel Tesla Model Y di China dilaporkan turun sekitar 15,05 persen sepanjang Januari hingga April 2026.
Baca juga: Tesla terus kehilangan pangsa pasar di China
Baca juga: Penjualan Xiaomi YU7 lampaui Tesla Model Y di China
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026