China (ANTARA) - BYD dan Car Inc. menandatangani letter of intent (LOI) atau dokumen kesepakatan awal terkait pembelian 100.000 mobil BYD untuk armada rental dan pembangunan stasiun Flash Charging BYD di lokasi rental di seluruh China, sebagai bagian dari strategi yang disebut kedua pihak sebagai “Flash Charging China Strategy”.

Sebelumnya, BYD telah bekerja sama dengan Car Inc. dengan menyediakan 3.000 sedan plug-in hybrid (PHEV) Qin Plus DM-i dalam proyek percontohan pada awal 2025.

Car Inc., yang juga dikenal sebagai Shenzhou Zuche di pasar China, kemudian membeli hampir 30.000 kendaraan BYD pada tahun yang sama untuk memperluas armadanya dengan mobil listrik dan hybrid dari produsen tersebut, lapor laman Carnewschina, Senin (11/5) waktu setempat.

Baca juga: Penjualan luar negeri BYD melonjak imbas kenaikan harga bahan bakar

Baca juga: BYD Yangwang U9 Xtreme terjual dengan harga sekitar Rp47 miliar

Car Inc. mengungkap perusahaannya memiliki lebih dari 3.500 lokasi rental di China, termasuk fasilitas pengambilan kendaraan dengan petugas maupun layanan mandiri.

Mereka mengklaim sebagai perusahaan rental mobil terbesar di China, dengan perusahaan rental internasional Hertz sebagai salah satu pemegang saham utamanya.

Dengan lebih dari 190.000 kendaraan, perusahaan ini menyatakan di LinkedIn bahwa armadanya lebih besar dibanding gabungan armada 19 pesaing terdekatnya di China.

Perusahaan rental tersebut juga sebelumnya bekerja sama dengan Baidu Apollo, platform kendaraan otonom level 4 milik Baidu. Pada pertengahan 2025, kedua perusahaan mengumumkan produk rental kendaraan otonom pertama di dunia yang menawarkan pengalaman berkendara dengan layanan “sopir” otomatis. Layanan itu direncanakan berbasis Apollo Go, platform ride-hailing otonom milik Baidu.

Sejak diumumkan pada Februari 2026, BYD terus mendorong pengembangan teknologi Flash Charging. Produsen mobil tersebut rutin menghadirkan model terbaru yang mendukung Flash Charging dan berkomitmen membangun 20.000 stasiun Flash Charging hingga akhir 2026 di Tiongkok.

Baca juga: BYD luncurkan FCB Ti7 Flash Charging Edition dengan jarak 755 km

BYD mengklaim teknologi Flash Charging memungkinkan mobilnya mengisi daya dengan kecepatan setara kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE), dengan rincian: lima menit dari 10 persen ke 70 persen, sembilan menit dari 10 persen ke 97 persen, dan hanya tiga menit lebih lambat pada suhu -30°C.

Menurut China EV DataTracker, BYD mencatat pengiriman stabil antara 250.000 hingga 300.000 kendaraan per bulan dari April hingga Desember 2025. Perayaan Tahun Baru pada Januari dan Februari 2026 menyebabkan penurunan penjualan yang diperkirakan terjadi, namun penjualan belum kembali ke level sebelumnya pada Maret.

Meski terlihat kuat, angka tersebut disebut menutupi fakta bahwa kinerja tahunan BYD mengalami penurunan signifikan. Di tengah perlambatan penjualan terbesar dalam sejarahnya di China, BYD berada di bawah tekanan untuk menjaga daya saing produknya.

Flash Charging menjadi jawaban BYD terhadap para pesaing yang mengembangkan teknologi penukaran baterai, seperti NIO dan ekosistem Choco-SEB milik CATL. Penjualan armada ke perusahaan rental juga dinilai memberi peluang bagi BYD untuk memperkenalkan mobil dan jaringan pengisi daya mereka secara langsung kepada calon pengguna yang masih penasaran atau ragu.

Baca juga: BYD Linghui e9 dengan flash charging resmi dibanderol mulai Rp385 juta

Baca juga: Pengujian flash charging BYD picu perdebatan terkait panas baterai

Baca juga: BYD terapkan platform hybrid Heyuan, kapasitas baterai lebih besar

Pewarta:
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026