Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Otomotif, Hasstriansyah mengatakan keputusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait insentif pajak kendaraan listrik dan bebas dari aturan ganjil genap (gage) menjadi angin segar bagi calon konsumen.

“Bagus Pak Gubernur tetap memberlakukan bebas pajak, setelah berita keputusan tetap bebas pajak di Jakarta, mungkin memberi angin segar (bagi calon konsumen),” kata Hasstriansyah saat dihubungi di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, keputusan Gubernur DKI Jakarta untuk tetap memberikan insentif bagi kendaraan listrik ini hadir dalam waktu yang tepat. Sebelumnya, sempat ada ketidakpastian regulasi setelah terbitnya aturan Kementerian Dalam Negeri yang kemudian disesuaikan melalui surat edaran, dengan kewenangan pengaturan dikembalikan ke pemerintah daerah.

Dengan adanya ketidakpastian tersebut, banyak dari masyarakat untuk memilih menunda pembelian kendaraan listrik sambil menunggu kepastian insentif fiskal, terutama terkait pajak kendaraan bermotor.

Baca juga: Produsen tunggu kepastian di tengah aturan baru pajak EV

Menurut dia, langkah ini juga harus ditularkan ke pemerintah daerah lain untuk semakin meyakinkan konsumen yang hendak beralih ke kendaraan listrik. Hal ini juga bertujuan untuk menciptakan realisasi cita-cita pemerintah di tahun 2023.

“Namun masih wait and see juga, apakah diikuti oleh Pemda Jawa Barat (cakupan Jabodetabek), karena mayoritas beli EV di Jabodetabek tetap karena bebas ganjil genap. Sehingga pemerintah daerah lainnya perlu mengikuti DKI Jakarta. Saya rasa ada pengaruh menjadi pertimbangan jadi beli EV atau tidak,” ujar dia.

Selain itu, momentum pameran otomotif seperti Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) dan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) pada Juli-Agustus 2026, diprediksi menjadi penentu.

Konsumen cenderung menunggu peluncuran model baru, pembaruan harga, serta kejelasan insentif sebelum mengambil keputusan pembelian.

Menurut data yang ada, penjualan kendaraan listrik secara global terus memiliki pertumbuhan yang positif. Diproyeksikan satu dari empat mobil yang terjual di dunia akan merupakan EV dalam beberapa tahun ke depan.

Penetrasi penjualan kendaraan EV di Indonesia juga tidak kalah moncer, pada tahun 2025 penjualan mencapai 9-10 persen dari total penjualan kendaraan nasional.

Namun, populasi kendaraan listrik saat ini baru sekitar 45 ribu unit, masih jauh dari target pemerintah sebanyak 2 juta unit pada 2030.

Baca juga: Skema baru pajak EV, Periklindo soroti peluang investasi daerah

Baca juga: Hapus insentif EV, Wamenperin: Kita harus pertimbangkan fiskal

Baca juga: Gaikindo sebut adil jika mobil listrik dikenakan pajak

Pewarta:
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026