Jakarta (ANTARA) - Penjualan mobil listrik berbasis baterai di kawasan Eropa dikabarkan mengalami lonjakan signifikan seiring meningkatnya harga bahan bakar.
Dilaporkan Carscoops pada Selasa (21/4) waktu setempat, data terbaru menunjukkan pendaftaran kendaraan listrik di 15 negara Uni Eropa dan kawasan European Free Trade Association meningkat hingga 51 persen secara tahunan pada Maret 2026.
Dalam periode tersebut, lebih dari 224.000 unit mobil listrik penumpang terjual, atau setara dengan sekitar 22 persen dari total penjualan mobil baru.
Dengan kata lain, hampir satu dari empat kendaraan yang terjual di Eropa merupakan mobil listrik.
Secara kumulatif, penjualan mobil listrik di kawasan tersebut juga menunjukkan tren positif.
Sepanjang kuartal pertama 2026, lebih dari 500.000 unit kendaraan listrik terjual, meningkat 33,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca juga: Penjualan mobil merek China di Indonesia naik 79 persen pada Q1 2026
Pertumbuhan ini tidak hanya terjadi di satu negara, melainkan merata di berbagai pasar utama.
Jerman mencatat kenaikan penjualan sebesar 42 persen, didorong kebijakan insentif pemerintah.
Adapun Prancis mempertahankan pangsa pasar kendaraan listrik sebesar 28 persen pada Maret 2026.
Sementara itu, Italia yang sebelumnya dinilai tertinggal dalam adopsi kendaraan listrik justru mencatat lonjakan hingga 65 persen.
Polandia juga menunjukkan pertumbuhan signifikan dengan peningkatan di atas 40 persen.
Kenaikan penjualan kendaraan listrik di Eropa juga tidak lepas dari faktor eksternal, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik global yang berdampak pada harga energi.
Kondisi tersebut membuat kendaraan listrik semakin dilirik sebagai alternatif yang lebih efisien dan stabil dalam biaya operasional.
Di sisi lain, tren ini berbanding terbalik dengan pasar Amerika Serikat yang masih menghadapi tantangan dalam mempercepat adopsi kendaraan listrik, terutama di tengah ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar fosil.
Hanya 216.399 kendaraan listrik yang terjual di Amerika antara Januari dan akhir Maret, penurunan tersebut sangat dipengaruhi oleh penghapusan kredit pajak federal sebesar $7.500 (Rp128 juta) pada September lalu, yang tampaknya telah menarik banyak pembeli kembali ke mobil berbahan bakar bensin.
Baca juga: Tesla berhasil kalahkan penjualan BYD di 2026
Baca juga: Xiaomi SU7 2026 dipesan 40 ribu unit seiring ekspansi model baru
Baca juga: China salip Jepang jadi importir mobil terbesar ke Australia
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026