Jakarta (ANTARA) - TransJakarta menyatakan saat ini sedang mengkaji elektrifikasi armada Mikrotrans bersama Dinas Perhubungan agar dampak layanan tersebut bisa dirasakan oleh masyarakat ketika teknologi itu diterapkan pada angkutan umum tersebut.

Spesialis Utama Transformasi dan Manajemen Perubahan TransJakarta Gatot Indra Koswara saat diskusi di Jakarta, Rabu, mengatakan tantangan utama penggunaan bus listrik pada segmen bus kecil terletak pada kapasitas baterai dan jangkauan operasional harian yang dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan layanan Mikrotrans.

Sementara untuk bus besar berukuran 13 hingga 18 meter, armada tersebut sudah  siap secara teknis dan TransJakarta sudah memiliki data-data implementasi bus listrik selama empat tahun, yang dinilai baik dari segi performa, baterai dan capaian kilometer.

Baca juga: DKI akan ganti 100 unit angkot tua dengan Mikrotrans Listrik

"Tapi, memang untuk bus medium dan Mikrotrans ini yang sampai saat ini kami masih mencoba mencari cara, bagaimana supaya ini bisa terealisasi dan bisa dirasakan layanannya di masyarakat," ujar Gatot.

TransJakarta masih mempertimbangkan apakah elektrifikasi pada bus kecil akan dilakukan secara menyeluruh atau dimulai dengan skema proyek percontohan seperti yang pernah diterapkan pada tahap awal pengembangan bus listrik pada armada bus besar.

Selain aspek teknis kendaraan, kesiapan infrastruktur juga menjadi perhatian. Rencana pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di sejumlah terminal oleh Dishub disebut dapat menjadi salah satu faktor pendukung agar elektrifikasi Mikrotrans dapat berjalan lebih optimal.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan operasional 10.000 unit bus listrik untuk armada TransJakarta pada 2030. Hingga saat ini, total bus listrik TransJakarta yang telah beroperasi mencapai sekitar 500 unit.

TransJakarta berencana melakukan peremajaan pada lebih dari 1.000 unit armadanya tahun ini, mencakup bus gandeng, bus besar, dan armada Mikrotrans yang jumlahnya menjadi porsi terbesar.

Peremajaan dilakukan untuk armada yang telah memasuki batas maksimum usia operasionalnya, yakni tujuh tahun untuk bus kecil dan 10 tahun untuk bus besar.

Menurut Gatot, peremajaan dilakukan untuk 108 unit bus artikulat (bus gandeng), bus single 100 unit dan Mikrotrans 972 unit.

"Totalnya kalau dengan bus kecil bisa seribu lebih, mudah-mudahan mulai beroperasi di bulan Februari atau Maret tahun depan," kata Gatot.

Baca juga: TransJakarta siap uji coba mikrotrans listrik

Baca juga: TransJakarta: 1 unit bus EV hemat subsidi BBM Rp302 juta per tahun

Baca juga: Pemprov DKI buka pintu investor bangun ekosistem charging bus listrik

Baca juga: Pengamat: Transformasi transportasi publik kunci kemandirian energi

Pewarta:
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026