Jakarta (ANTARA) - Pabrikan otomotif asal China, Jetour sukses melakukan kegiatan uji coba untuk kendaraan T1 di berbagai medan seperti di Pegunungan Andes hingga kondisi paling kering di dunia di Gurun Atacama.

Pengujian yang dilakukan di dua iklim berbeda ini, semata-mata untuk membuktikan ketangguhan dan juga kenyamanan kendaraan tersebut saat digunakan di beragam kondisi cuaca dan juga medan yang dilalui.

“Melalui pengujian di berbagai kondisi ekstrem di dunia, kami ingin memastikan bahwa setiap teknologi dan kapabilitas yang kami tawarkan benar-benar relevan dan memberikan rasa percaya diri bagi konsumen dalam setiap perjalanan mereka,” kata Marketing Director PT Jetour Sales Indonesia, Moch Ranggy Radiansyah dalam keterangan resminya, Kamis.

Baca juga: Jetour kemukakan keunggulan T2 sebagai kendaraan mudik

Dikembangkan sebagai bagian dari strategi global Jetour “Travel+”, Jetour T1 hadir bukan hanya sebagai kendaraan, tetapi sebagai partner perjalanan yang dirancang untuk memberikan kebebasan eksplorasi, tanpa mengorbankan kenyamanan berkendara di perkotaan.

“Hal ini sekaligus menegaskan komitmen Jetour untuk menghadirkan kendaraan yang tidak hanya inovatif, tetapi juga aman, tangguh, dan sesuai dengan kebutuhan mobilitas masyarakat Indonesia,” ujar dia.

Dalam masa pengujiannya di Pegunungan Andes yang memiliki ketinggian lebih dari 5.000 meter, Jetour T1 menghadapi suhu ekstrem, tekanan udara rendah, dan kadar oksigen minim.

Kondisi tersebut, sangat memungkinkan untuk bisa menurunkan performa dari kendaraan. Kondisi ini dimanfaatkan sebagai pengujian langsung untuk mengevaluasi cold start, performa off-road, tenaga, dan handling.

Baca juga: Jetour beri harga khusus bagi 1.000 pembeli T2 pertama, ini fiturnya

Jetour sukses uji coba T1 di dua cuaca ekstrem berbeda. (ANTARA/Jetour Indonesia)

Baca juga: Jetour janjikan T2 hadirkan pengendaraan yang lebih modern

Dalam uji cold start, mesin yang digunakan oleh kendaraan ini yakni 2.0T Turbocharged mampu menyala hanya dalam satu kali percobaan, meskipun kadar oksigen hanya sekitar 60 persen dibandingkan kondisi normal.

“Performa ini menunjukkan kemampuan adaptasi tinggi serta kalibrasi mesin yang matang,” ucap dia.

Di sisi lain, pengujian dibebankan untuk penggunaan off-road. Pengujian ini menitik beratkan pada sistem XWD Intelligent All-Wheel Drive yang digunakan oleh kendaraan tersebut.

Hasilnya, sistem ini menunjukkan kemampuan adaptif yang canggih dengan distribusi torsi secara real time, sehingga memungkinkan kendaraan melewati medan ekstrem seperti pasir longgar dan jurang tanpa hambatan.

Baca juga: Jetour T2 raih penghargaan Most Driven Car di GJAW 2025

Sementara di iklim yang berbeda dan juga tidak kalah ekstrem, Jetour menyiksa T1 ini di gurun yang cukup terik. Atacama menjadi ujian sesungguhnya untuk durabilitas mekanis dan stabilitas sistem Jetour T1, dengan kelembapan hanya sekitar 5 persen, suhu ekstrem, debu garam korosif, serta fluktuasi suhu harian di atas 30°C.

Hasilnya, Jetour T1 berhasil keluar dari jebakan pasir sedalam 30 cm berkat sistem XWD yang mampu mendistribusikan torsi hingga 390 Nm secara presisi ke keempat roda serta mampu menghasilkan tenaga yang stabil dalam uji tanjakan hingga 30°.

Rangkaian pengujian ini menegaskan komitmen Jetour dalam menghadirkan kendaraan yang benar-benar teruji di kondisi ekstrem dunia nyata, sekaligus memberikan rasa percaya diri bagi pengguna dalam setiap perjalanan.

Baca juga: Jetour hadirkan T2 untuk perkuat filosofi Travel+ di Indonesia

Pewarta:
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026