Amerika Serikat (ANTARA) - Volvo akan menghentikan penjualan SUV listrik subkompak EX30 di Amerika Serikat setelah hanya dua tahun model.

Produsen mobil asal Swedia tersebut masih akan menjual EX30 secara global, namun EX30 menjadi salah satu dari sejumlah kendaraan listrik yang “tereliminasi” karena tarif dan biaya produksi memaksa produsen mobil menyesuaikan strategi mereka di tengah perubahan industri otomotif.

Laman USA Today, Selasa (17/3) waktu setempat, dengan sikap pemerintah saat ini terhadap kendaraan listrik, minimnya insentif federal, serta tarif yang berdampak besar pada produsen mobil dunia, banyak EV diperkirakan tidak akan bertahan hingga 2026.

Baca juga: Volvo ungkap EX30 pada Juli nanti

Baca juga: SUV listrik Volvo pabrikan China diluncurkan, harga mulai Rp443 juta

Kendaraan listrik memang mulai memberi pengaruh di pasar Amerika dalam beberapa tahun terakhir, tetapi tidak semua EV memiliki nasib yang sama.

Model besar seperti Tesla Model Y dan Model 3 telah menjadi sangat populer dan digunakan sehari-hari oleh banyak orang di AS.

Sebaliknya, model EV lain yang kurang sukses justru menjadi beban bagi produsen mobil di tengah persaingan pasar yang sangat ketat.

Volvo menjual sekitar 5.400 unit EX30 pada 2025. Angka ini mungkin cukup baik untuk sebagian model EV, tetapi Hyundai menjual lebih dari 47.000 unit Ioniq 5 pada tahun yang sama, berdasarkan data Cox Automotive.

Sementara itu, Tesla menjual lebih dari 192.000 unit sedan Model 3 pada 2025, jauh melampaui pesaingnya.

Apakah Volvo EX30 layak dibeli?

Volvo EX30 model 2026 dibanderol mulai dari 40.345 dolar AS (sekitar Rp683,4 juta). Mobil ini menghasilkan tenaga 268 horsepower dan torsi 253 lb-ft, dengan jarak tempuh hingga 420 km dalam sekali pengisian daya.

Volvo juga menawarkan varian Twin Motor Performance seharga 46.345 dolar AS (Rp785 juta) dengan tenaga 422 horsepower dan torsi 400 lb-ft. Varian ini memiliki jarak tempuh sekitar 407 km.

Baca juga: Volvo EX30 telat tiba di AS karena tarif impor

Meski spesifikasinya cukup baik, harga EX30 tergolong lebih mahal dibanding beberapa SUV listrik yang lebih besar di AS. Selain itu, ada beberapa model yang lebih terjangkau dengan jarak tempuh lebih jauh.

EX30 mungkin menarik bagi segmen kecil penggemar EV, tetapi dampaknya dinilai belum cukup besar untuk membuat Volvo terus memproduksinya.

Mengapa banyak produsen mobil mulai meninggalkan EV?

Volvo mengikuti langkah beberapa merek lain, termasuk Ford, yang juga menghentikan model kendaraan listrik yang sebenarnya menjanjikan, tetapi tidak berkelanjutan secara bisnis.

Banyak produsen mobil mulai mengurangi produksi EV karena Presiden Donald Trump mencabut kebijakan kendaraan listrik era Presiden Joe Biden.

Karena tidak lagi diwajibkan memproduksi kendaraan listrik, produsen kini bisa lebih fokus pada mobil berbahan bakar bensin dan hybrid yang lebih menguntungkan, lebih murah diproduksi, dan lebih diminati konsumen di AS.

Toyota baru-baru ini menjadikan dua model terlarisnya, Camry dan RAV4, sebagai kendaraan hybrid standar. Keputusan untuk menghapus versi bensin murni pada kedua model tersebut mencerminkan tren pasar.

Konsumen mobil di Amerika kini cenderung memilih kendaraan yang terjangkau dan hemat bahan bakar. Penjualan Tesla menjadi pengecualian dibanding merek lain. EX30 kemungkinan bukan menjadi model EV terakhir yang “tumbang” di tengah perubahan pasar yang cepat.

Baca juga: Volvo tarik 40.000 SUV listrik EX30, bagaimana dengan unit di RI?

Baca juga: Volvo hadirkan varian baru EX30 dengan harga lebih terjangkau

Baca juga: Volvo mulai produksi SUV listrik EX30 di Belgia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pewarta:
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026