Jakarta (ANTARA News) - Pengamat otomotif Suhari Sargo mengatakan ada tantangan terbesar yang harus dihadapi Esemka apabila mobil produk Surakarta ini berlanjut pada produksi massal, yakni memasuki pasar otomotif yang sudah terbuka dan seluruhnya dikuasai merek-merek asing.

"Sekarang Indonesia sudah berada di pasar terbuka, kalau mau buat mobil sendiri harus menghadapi pasar otomotif yang sudah dikuasai merek-merek asing. Itu berat," kata Suhari di Jakarta, Jumat.

Selain beban memantapkan kesiapan segala fasilitas produksi serta sumber daya manusia untuk basis produksi mobil, keberlanjuran di pasar bebas, menjadi salah satu tantangan terberat Esemka apabila ingin diproduksi secara massal baik dengan ataupun tanpa bantuan pemerintah.

"Bagaimana mengubah aturan pasar? Sekarang kita sudah ikut pasar bebas, apa bisa diubah?" ujarnya.

Kondisi semacam ini mungkin tidak bisa dibandingkan dengan berbagai kisah sukses program mobil nasional di negara-negara lain seperti India, Korea Selatan dan Tiongkok.

India misalnya, Tata yang sejak era pasca Perang Dunia Kedua sudah bergerak mengembangkan industri mereka memiliki keunggulan kala itu masih berada dalam pasar tertutup yang memungkinkan regulasinya memberikan keuntungan bagi merek lokal yang dikembangkan untuk dipilih atau digunakan sehingga didukung penuh pemerintah.

"Kalau kita lihat dulu itu menteri-menteri di India juga pakai mobilnya sederhana kan, buatan dalam negeri. Itu berjalan belasan puluhan tahun, sehingga Tata berkesempatan maju. Itu juga yang dilakukan di Tiongkok," ujarnya.

Belakangan, Esemka diusulkan untuk dikembangkan sebagai angkutan perkebunan, pertambangan dan perdesaan, sebagaimana disampaikan Menteri Perindustrian Saleh Husin seusai rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo pada Februari 2015.

Angkutan perkebunan, pertambangan dan perdesaan biasanya identik dengan mobil-mobil kabin ganda, dan Esemka memiliki model Digdaya di segmen ini yang juga dihuni Chevrolet Colorado, Ford Ranger, Isuzu D-Max, Mitsubishi Triton, Nissan Navara, Tata Xenon dan Toyota Hilux.

Pewarta: Gilang Galiartha
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2015