Jakarta (ANTARA News) - "Enggak ada knalpotnya ya?," kata seorang pengunjung yang mengamati Sedan Mirai di booth Toyota pada pameran Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show di BSD City, Tangerang Selatan, Banten.

Knalpot atau saluran gas buang, pada mobil-mobil masa kini biasanya ditampakkan untuk menambah gaya penampilan, seperti dilapis krom dan menyatu dengan bemper belakang.

Tapi di Mirai, yang dalam bahasa Jepang berarti "masa depan", memang tidak ada knalpot.

Mirai adalah kendaraan fuel cell pertama yang dipasarkan oleh Toyota mulai akhir tahun lalu di Jepang.

Teknologi fuell cell menggunakan hidrogen sebagai "bahan bakar".  Hidrogen diperlukan namun bukan untuk dibakar seperti pada mesin bensin atau diesel.

Hidrogen dicampur dengan oksigen sehingga menghasilkan reaksi kimia. Reaksi kimia ini yang menggerakkan motor listrik pada Mirai.

Karena proses yang terjadi bukanlah pembakaran minyak tapi reaksi kimia hidrogen dan oksigen, maka emisi CO2 Mirai adalah nol dan tidak memerlukan knalpot. Hasil proses yang terjadi hanya air dan energi.

Teknologi yang digunakan untuk Mirai disebut Toyota Fuel Cell System (TFCS), gabungan antara teknologi fuel cell dan hybrid.

Bunyi raungan "mesin" di Mirai sangat minim karena tidak ada pembakaran, maka itu pula getarannya minimal. Bunyi yang sayup terdengar dari kabin lebih mirip desis.

"Jeroan" TFCS pada Mirai terdiri dari unit utama bernama FC Stack, letaknya di bawah tempat duduk depan.

Unit ini tugasnya menghasilkan listrik dari reaksi kimia hidrogen dengan oksigen.

Unit lainnya adalah  penguat daya (FC Boost Converter), dan tabung hidrogen tekanan tinggi (Mirai punya dua tangki hidrogen yang letaknya di bawah tempat duduk belakang dan di bawah bagasi), serta baterai nickel-metal hydride.

FC Stack Toyota menghasilkan output maksimum 114 kilowatt atau lebih dari 152 tenaga kuda.dan torsi 335 Nm (34.2 kgf-m).

Sementara itu, FC Boost Converter bertugas memperkuat listrik yang dihasilkan FC Stack hingga 650 volt.

Demi unggul di mobil fuel cell, Toyota juga terlebih dahulu menguasai teknologi tangki hidrogen tekanan tinggi sehingga tercipta tangki penyimpanan dengan tekanan 70 megapascal (hampir setara 700 bar).

Toyota mengembangkan sendiri teknologi tangki hidrogen tersebut sedangkan merek otomotif lainnya mengalih dayakan soal tangki hidrogen.

Cara kerja fuel cell Mirai

Hidrogen disalurkan ke FC Stack (terletak di bawah antara pengemudi dan penumpang depan) sehingga timbul reaksi kimia berupa listrik.

Listrik tersebut, dengan penguat dari boost converter (menempel pada FC Stack), dikirim ke motor listrik di balik kap depan dengan output maksimum 113 kW/torsi 335 Nm, maupun ke baterai hybrid ( di bawah dek bagasi).

Motor listrik digerakkan langsung oleh FC Stack saat akselerasi sedangkan pada kondisi stabil digerakkan oleh baterai, biasa disebut sistem hybrid. Baterai terletak di bagasi belakang.

Orang di kabin bisa mengetahui sumber penggerak motor listrik, apakah FC Stack atau baterai, dari indikator di dashboard.

Mirai dengan bobot 1.850 kg. telah mengadopsi regenerative braking yaitu energi dari pengereman diubah menjadi listrik untuk memasok baterai.

Di Jepang, harganya sekitar 7,23 juta yen (kurang lebih Rp800 juta, harga di Jepang).

Mirai juga dilengkapi teknologi keselamatan seperti sistem "anti-tabrak" dengan radar dan kamera (pre-collision system), blind spot monitor yang mengkonfirmasi spion jika akan pindah jalur, serta peringatan jika kendaraan mulai melenceng dari jalur.

Sekali isi penuh hidrogen, kendaraan itu bisa berjalan 650 km dan waktu isinya cuma tiga menit, jauh lebih singkat dibandingkan kendaraan listrik plug-in yang memerlukan waktu pengisian paling cepat tiga jam.

Mirai juga memiliki fitur keselamatan seperti pre-collision system (dengan radar gelombang milimeter) yang membantu mencegah tabrakan melalui alarm dan rem. Fitur itu berfungsi jika mendeteksi tabrakan yang kemungkinan besar bisa terjadi.

Terdapat juga sistem peringatan Lane Departure dengan kamera yang mendeteksi marka jalan putih atau kuning dan memberitahu pengemudi ketika kendaraan akan menyimpang dari jalur tersebut.

Fitur Drive-start Control membatasi start tiba-tiba atau akselerasi mendadak saat perpindahan gigi.

Selain itu terdapat Blind Spot Monitor; radar untuk mendeteksi kendaraan yang berdekatan dan mengkonfirmasi pengemudi ingin berganti jalur.

Dadi Hendriadi, General Manager Technical Service PT Toyota Astra Motor (TAM)  di GIIAS menjelaskan Toyota memandang hidrogen merupakan unsur yang paling banyak di dunia sehingga mereka meyakini bahwa nantinya hidrogen akan menjadi bahan bakar utama di dunia.

Selain itu, hidrogen sangat aman, efisien dan ramah lingkungan tanpa menghasilkan emisi karena sisa pembakarannya keluar dalam bentuk air (H20).

Mirai telah mendapat sambutan yang baik hingga dalam satu bulani telah dipesan 1.000 unit di Jepang sehingga Toyota menambah kapasitas produksi Mirai yang dilakukan di Motomachi Plant, Jepang.

Mengenai kemungkinan Mirai dijual di Indonesia, Dadi mengemukakan saat ini belum waktunya. "Kalau (dipasarkan) di Indonesia bahan bakar hidrogennya dari mana?" tutur Dadi.

Mirai adalah versi produksi dari mobil konsep Toyota F-CV yang hadir sejak pameran mobil internasional di Kemayoran Jakarta tahun lalu. 

Berdasarkan catatan, Toyota  bukan yang pertama memproduksi massal kendaraan fuel cell. Hyundai lebih dulu memasarkan kendaraan fuel cell yaitu jenis SUV.


Pewarta: Aditia Maruli Radja
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2015