Semarang (ANTARA News) - Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama menolak pendirian Partai Kebangkitan Nahdlatul Ulama (PKNU) oleh sejumlah tokoh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) versi Muktamar Surabaya. "Partai baru berbasis NU untuk saat ini belum diperlukan, karena dengan adanya partai baru, warga NU justru semakin bingung," kata Ketua Umum IPNU Idy Muzayad dalam keterangannya di Semarang, Senin. Menurut dia, berdirinya partai baru juga menyebabkan warga NU akan kehilangan panutan, sebab tokoh-tokoh yang dulu diidamkan malah terbuai dalam konflik berkepanjangan. "Seharusnya mereka tidak perlu bertengkar hanya karena berebut kekuasaan dalam partai. Kalau para tokoh politik NU ini terus konflik, warga akan kehilangan uswatun hasanah (panutan). Bila yang terjadi demikian, solidaritas warga NU akan rapuh," katanya. Menurut dia, pendirian partai baru terkesan asal-asalan dan hanya mengikuti nafsu politik. "Masih ada peluang islah, kenapa tidak dilakukan. Sampai sekarang peluang islah masih besar. Jadi lebih baik mereka bergabung seperti dulu," katanya. Apalagi pengalaman pendirian partai baru oleh warga NU sebelumnya juga tidak berhasil, baik dari sisi perolehan suara maupun kebersamaannya. "Apa pun alasannya, saat ini warga NU belum butuh partai baru," kata mahasiswa S-2 Universitas Indonesia itu. Senada dengan itu, Wakil Ketua PW IPNU Jawa Tengah, M. Rikza Chamami juga mengharap para politisi NU untuk merenungkan kembali niat membuat partai baru. "Partai baru bukan solusi, tetapi menjadi bencana bagi NU," katanya. Idy Muzayad menambahkan, partai bukanlah satu-satunya wadah berjuang bagi NU, karena masih ada sektor penting di luar politik, seperti agama, ekonomi, hukum, dan pendidikan. "Sebaiknya bagi mereka yang sudah tidak berkiprah di politik bisa mengambil peran di sektor lain. Para kiai juga bisa kembali ke pondok pesantren," katanya. Selama ini ada penilaian bahwa partai menjadi posisi tertinggi atau puncak kesuksesan, padahal anggapan ini sama sekali salah. Sejak mendeklarasikan lepas dari politik, katanya mengingatkan, NU lebih fokus pada persoalan agama, pendidikan, dan kebangsaan, karena itu IPNU mendorong seluruh warga NU untuk kembali mengurus agama dan pendidikan. "Warga muda NU lebih butuh ilmu kiai dari pesantren daripada politik kiai," katanya.(*)

Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2006